Minggu, 26 Januari 2014

Sejarah HMKS



SEJARAH HIMPUNAN MAHASISWA KECAMATAN SEJANGKUNG (HMKS)

                 Himpunan Mahasiswa Kecamatan Sejangkung (HMKS) Lahir kurang lebih 14 Tahun yang lalu (1998). Organisasi tingkat Kecamatan ini, awal mulanya bernama Ikatan pelajar dan Mahasiswa Kec. Sejangkung (IPMKS). Saat itu, pelajar SMA juga tergabung karena jumlah mahasiswa dari kec. Sejangkung masih sedikit. Seiring waktu berjalan dan jumlah mahasiwa dari Kec. Sejangkung bertambah, pada MUBES tahun 2009 IPMKS berubah menjadi HMKS. Sejak berdiri dan hingga sekarang semangat dan cita – cita HMKS masih tetap pada fungsi dan tanggung jawabnya yaitu HMKS berdiri untuk mewadahi mahasiswa yang berasal dari Kec. Sejangkung di Perguruan Tinggi manapun berada untuk berkreasi dan berorganisasi. Selain itu, HMKS juga diharapkan sebagai pusat pemersatu antar mahasiswa, kaum perubah  situasi dan kondisi Kecamatan Sejangkung  yang tertinggal ke arah lebih baik karena Kec. Sejangkung hingga  ini termasuk Kecamatan terbelakang, dan lewat organisai ini juga dijadikan forum silahturahmi, tolong menolong, berbagi informasi  diskusi, dan aksi nyata mahasiswa. Dinamika organisasi dan bergainig HMKS ditingkat Mahasiswa tidak kalah dengan organisasi lainya baik dilevel Kab. Sambas, Kalbar maupun Nasional. Kader- kader HMKS juga telah banyak memberikan masukan kepada Pemda Kabupaten Sambas lewat tulisan di media masa. Sekarang HMKS menunggu kader terbaiknya agar kedepan HMKS bisa bermanfaat lebih luas dari sebelumnya. (Ditulis oleh Dedi)

Rabu, 29 Mei 2013

Biografi Singkat Prof. Dr. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc.




Alqadrie adalah Professor Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura (UNTAN), Pontianak. Sejak Agustus 1995 s/d September 2001 ia menjabat Dekan pada fakultas tersebut selama dua masa jabatan. Pengalaman kerjanya dimulai dari Guru SD Islamiyah Kampung Bangka (1966-1969), Guru SMEP Negeri (1968-1972), Guru SMEA Negeri Pontianak (1972-1974), Asisten Dosen Tidak Tetap UNTAN (1969-1974) dan Dosen Tetap UNTAN (1975-sekarang). Pendidikan Sarjana Satu (S1) diperolehnya dalam Jurusan Ilmu Administrasi Negara (IAN) Konsentrasi Kebijakan Publik (Public Policy) di FISIP UNTAN (1974). Sarjana Dua (S2) [M.Sc] tahun 1987 dan Sarjana Tiga (S3) [Ph.D] tahun 1990 diperolehnya masing-masing dalam Jurusan Sosiologi Pertanian, Pedesaan dan Kehutanan (Agricultural, Rural and Forestry Sociology), dan Jurusan Sosiologi Politik dan Etnisitas (Political Sociology and Ethnicity) pada University of Kentucky, Lexington, AS.
Tahun 1993 ia memperoleh Penghargaan David Penny Award dari Pemerintah Australia sebagai penulis terbaik tentang Kemiskinan. Tahun 1998 mengikuti Kursus Singkat Angkatan (KSA) VII LEMHANNAS (selama 4½ bulan) di Jakarta. Pada tahun 1999 dianugerahi Bintang Jasa Utama oleh Presiden R.I. Dalam tahun yang sama dianugerahi Bintang Kesetian Dalam Pengabdian 30 tahun dari Pemerintah Daerah Kalbar.
Sejak Juli 2000 s/d Nopember 2004 diangkat sebagai Direktur Program Pasca Sarjana Ilmu-Ilmu Sosial UNTAN. Menjadi anggota Komisi Pengarah. (Steering Committee/SC) Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat (FPPM) sejak 2000 dan Forum Pengembangan Pembaruan Desa (FPPD) sejak 2003. Dari tahun 2000 s/d 31/5 2006 diangkat sebagai Koordinator Indonesian Conflict and Peace Study Network (ICPSN) se Kalimantan, dan sejak 1 Juni 2006-sekarang sebagai Ketua ICPSN se-Indonesia yang berkantor Pusat di University of Helsinki, Filandia, dan Cabang Utama di NIAS, Copenhagen, Denmark.
Sejak tahun 2009-sekarang, ia dipercaya untuk menjadi Coopromotor beberapa mahasiswa Program S3 di Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pada tahun 1995-1997, beliau pernah menjadi dosen tamu di  Universiti Utara Malaysia, 1995-1998 dosen tamu di Universiti Sarawak Malaysia (USM), dan pada tahun 2005-2009, beliau menjadi dosen tamu di University of Helsinki, Finlandia. Sejak 2001 s/d sekarang menjadi Dosen Tamu (Visiting Professor) di Nordic Institute of Asian Studies (NIAS) di Copenhagen, Denmark. Tahun 2010 beliau juga dipercaya untuk menjadi Penilai Luar Terhadap Calon Professor di Universiti Teknologi Mara, Selangor Darul Ehsan, Malaysia. Agustus 2010, menjadi Local Advisor bagi peneliti dari beberapa universitas di Jepang yang meneliti di Kal-Bar (Kyoto University, Ryukoku University, Konan Women's University & Kochi University). September 2010 diangkat menjadi Local Academic Supervisor bagi mahasiswa Post Doctoral dari Department of Anthropology, Archaeology and Linguistics Faculty of Humanities Aarhus University, Denmark. Oktober 2010 menjadi Local Advisor bagi mahasiswa S3 dari German Institute of Global and Area Studies, Hamburg, Jerman. Akhir 2010 menjadi Visiting Professor di Kyoto University, Jepang.

Rabu, 09 Januari 2013

PANGKAS POHON YANG MEMBAHAYAKAN



                Di beberapa  sepanjang jalan di kota Pontianak, kita lihat banyak pohon penghijau kota yang selayaknya harus di pangkas masih menjulang tinggi. Pohon- pohon tersebut tentunya sangat berpotensi membahayakan penguna jalan. Apalagi Kondisi Kota Pontianak sekarang ini  selalu di guyur hujan. Saat hujan turun biasanya di ikuti oleh hembusan angin walaupaun tidak terlalu besar. Pohon yang belum di pangkas khususnya penulis lihat di Jalan Syrif Abdurrahman, Jalan Jendral A. Yani dan K.H Ahmad Dahlan sudah sangat mengkhawatirkan penguna jalan, dengan pososisi ada pohon yang sudah condong, menjulang tinggi dan posisi pohon di pinggir parit tidak menutup kemungkinan pohon tersebut bisa tumbang ke arah jalan atau sebagain dahan bisa patah ketika di tiup angin atau di guyur hujan. Dengan kondisi seperti itu sangat di mohon intansi terkait di Kota Pontianak tanggap dan segara memangkas pohon – pohon tersebut. Bukankah tahun sebelumnya di kota Pontianak ada penguna jalan tertimpa pohon ketika mengendarai kendaraanya itu bisa menjadi pelajaran. Saatnya tindakan preventif selalu di utamakan untuk masyarakat kota Pontianak. Jangan sampai tujuan penanaman pohon di pinggir jalan untuk penghijau dan penyejuk kota bisa membawa malapetaka bagi warga kota Pontianak.  

DI TERBITKAN DI PONTIANAK POST KOLOM HALLO PUBLIK EDISI RABU, 2 JANUARI 2013
Oleh : Dedi (Mahasiswa Fisipol Untan)

Rabu, 12 Desember 2012

PRESTASI OLAHRAGA INDONESIA MENURUN ; GARUDA PATAH SAYAP DAN SIAPA YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB


            Berjuta mata rakyat Indonesia menyaksikan Garuda berlaga di babak penyisihan grub B di Laga AFF 2012. Harapan bangsa Indonesia disematkan dipundak pemain tim nasional ( TIMNAS) dan iringi doa agar sang Garuda menang dan bisa terbang tinggi menembus lagit babak penyisihan serta bisa mencengkram tahta sang  juara   sepak bola di Asia ternggara. Laga penentu antara TIMNAS versus Malaysia merupakan laga terakhir di grub B dan laga ini merupakan laga hidup mati bagi Indonesia. Secara point Indonesia sebenarnya hanya butuh  seri saja sudah bisa lolos untuk ke babak semifinal. Alhasil di babak pertama Indonesia ketinggalan 2 angka dan  hasil tersebut hingga peluit panjang  , score masih tetap sama alias Indonesia kalah 0-2. Harapan dan doa bangsa Indonesia berbalas kalah, kebayakan sporter atau bagsa Indonesia mengatakan kecewa dan bersedih dengan hasil tersebut. Secara permainan kita kalah dan dengan kekalahan di laga penentu tersebut berarti kita tidak lolos ke babak semifinal. Dan sangat lebih mengecewakan lagi adalah bahwa kita takluk oleh harimau malaya (julukan untuk Malaysia ) yang mana perseteruan bebuyutan tersebut bukan hanya merebut kemenagan atau mengalami kekalahan akan tetapi pertarungan ini mempertaruhkan harga diri bangsa.
            Terlapas dari menang atau kalah dan siapa penyebab atau siapa yang benar dan salah di tubuh garuda tersebut cukuplah menjadi renungan dan pelajaran bagi kita bersama khususnya lembaga atau wadah yang bertanggung jawab dalam hal ini  .  Akan tetapi bagaimanapun secara moral penulis ingin sedikit memberikan kritik yang sifatnya membagun terhadap persoalan prestasi olahraga Indonesia kian waktu kian menurun, bukan hanya di persepakbolaan saja akan tetapi dicabang olah raga lain juga merosot. Sebagai contoh dahulu prestasi cabang Badminton kita selalu terkuat dan terdepan di dunia dan menjadi andalan bangsa ini, akan  tetapi baru- baru ini juga kian ompong. Cabang olahraga apa lagi sekarang menjadi kebanggaan bangsa ini, mungkin sekarang kita mulai ragu untuk menjawab pertanyaan tersebut karena inilah realita olahraga kita.
            Adapaun kritik dan saran yang ingin penulis sampaikan terhadap dunia olahraga Indonesia khususya dunia persepakbolaan Indonesia yaitu pertama, dari segi kepengurusan persatuan sepak bola Indonesia (PSSI), yang mana kebobrokan PSSI sudah menjadi rahasia publik. Perpecahan di tubuh PSSI bukan lagi hanya sebatas perang wacana akan tetapi sudah pada tahap dualisme kepemimpinan. Pengurus PSSI hanya mengurus kepentingan kelompoknya masing- masing, pemain yang berlaga menjadi korban kepetingan tersebut. Penulis menyaksikan bahwa PSSI hanya dijadikan lahan dan kendaraan politik oleh oknum yang tidak bertanggung jawab karena telah kita melihat bersama-sama bahwa segala apa yang dilakukan dan di hasilkan selalu mengutamakan kepentingan dan dipolitisasi. PSSI sangat rentan oleh  politisasasi daripada bagaimana PSSI benar – benar membangun persepakbolaan Indonesia agar maju dan berkembang pesat serta berprestasi. Sudah saatnya PSSI kembali lagi ke titah dan tujuan PSSI tersebut sebab rakyat Indonesia masih berharap Indonesia bisa dan maju di dunia persepakbolaan. Kedua,  dilihat dari segi reward atau penghargaan oleh pemerintah terhadap atlet atau pemain yang telah mengharumkan bangsa dinilai masih sangat rendah.  Tidak asing lagi di telinga kita bersama bahwa banyak atlet yang dulunya menjadi pahlawan dan berjasa dalam olahraga  menjual trofi juaranya berhubung ketidakberdayaanya dalam ekonomi dan bahkan menjadi tukang ojek. Sudah selayaknya dan seharusnya pemerintah memberikan penghargaan yang sebesar – besarnya kepada pemain atau atltet dan itu bakan hanya ketika mereka lagi produktif untuk mengharumkan bangsa ini akan tetapi jaminan masa depan atau masa tua mereka juga harus menjadi prioritas.
            Semua sudah terjadi dan garuda kalah, kini terbang tanpa sayap. Harapan hari esok agar sayap – sayap tumbuh dengan bulu – bulu yang menarik dan elok untuk bangsa ini , peluang kedepan masih terbuka lebar tinggal kemauan dan komitmen semua pihak untuk meraihnya. PSSI harus berbenah diri, kembali ke titah awal agar persepakbolaan  Indonesia bangkit dan jaya. Garuda tetap didadaku, kami menunggu  kepakan sayap indahmu di lagi biru. Jaya Indonesia.
                                                           

Jumat, 07 Desember 2012

AKU INGIN MENJADI PETANI



                Di era yang serba mengedepankan informasi dan teknologi  dan perkembanganyan sagat begitu pesat jarang kita dengar keinginan atau cita – cita anak muda untuk menjadi petani. Pekerjaan petani penulis maksudkan adalah petani penanam padi, sebab pekerjaan petani anggapan  orang umum  identik dangan penanam padi, padahal pekerjaan petani bukan hanya menanam padi saja melainkan banyak lagi jenis tanaman lainya. Kebanyakan orang dan tidak bisa dipungkiri termasuk juga penulis dan bahkan sebagian mahasiswa yang lulusan dari bidang pertanian pun lebih memilih pekerjaan atau profesi sebagai pengusaha, pejabat, karyawan suatu perusahaan, pegawai negeri sipil dan sebagainya di bandingkan jadi seorang petani . Salah satu alasan atau stigma sederhana mengapa keinginan tersebut jarang kita dengar yaitu mungkin  karena pekerjaan sebagai petani dianggap orang Desa,orang masyarakat dari kalangan bawah, dan masa depannya tidak terjamin. Padahal telah kita ketahui seberapa modernpun dan semaju apapun industri kita saat ini akan tetapi  negara kita merupakan negara agraris dan mayoritas penduduknya mengkonsumsi bahan pokok dari padi atau beras. Oleh karena itu pekerjaan sebagai petani merupakan pekerjaan yang penting untuk kemandirian bangsa dan petani tersebut juga boleh di beri julukan pahlwan pangan bangsa. Masih kah kita menggatakan petani itu orang desa atau orang bawah?.
                Dengan peran dan andil petani dalam kemajuan dan kemandirian bangsa sangat besar, pertanyaan yang muncul untuk hal tersbut adalah apakah petani kita sekarang ini telah dilindungi dan sudah sejauh mana upaya  pemerintah selaku pemengang otoritas kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat dalam hal memberikan bantuan baik materil maupun non materil? Banyak permaslahan dan kendala yang petani hadapi sekarang ini. Dari segi areal ,  lahan yang mereka garap sekarang berkurang karena kebijakan pemberian izin penaman sawit, areal persawahan berubah menjadi  areal perkantoran, perumahan , industri dan sebagainya.  Dari segi bibit, bibit yang mereka gunakan masih belum unggul dan bibit unggul yang tersedia masih mahal. Dari segi pola tanam, pola waktu tanam khususnya di Kalimantan Barat masih mengunakan cara tradisonal dan waktu tanam padi setahun sekali. Dari segi kebutuhan atau perlengkapan atau alat tanaman padi, pupuk yang digunakan minim karena harga pupuk mahal dan bahkan kadang – kadang langka. Untuk perlengkapan pertanian atau alat pertanian masih mengunakan alat tradisonal seperti cangkul, parang dan laianya. Untuk pengunaan mesin traktor dan mesin pelepas buah padi dari tangkainya masih sangat jarang ditemukan. Dari segi pemasaran dan harga hasil produk pertanian berupa padi atau beras, petani masih binggung khususya dalam hal harga jual padi atau beras yang masih rendah.
                Dari sedemikian komplek permaslahan petani dan pemerintah sudah tahu dengan hal tersebut. Maka sudah selayaknya pemerintah memberikan perhatian khusus kepada bapak – bapak dan ibu – ibu pahlwan pangan,  minimal mensejahterakan mereka- mereka dan bangsa ini dari hasil panen tersebut dengan memberikan bimbingan teknis berupa penyuluhan pertanian, memberikan subsidi terhadap bibit unggul dan pupuk, dan memlindungi pemasaran dan harga jual petani.
                Sekarang terlepas siapapun yang ingin atau tidak  ingin menjadi petani, yang jelas saatnya kita   bersama – sama bahu membahu agar kemandirian pangan berpihak di negara kita. Semua elemen masyarakat bisa membantu petani tentunya sesui dengan kapasitas dan fugsinya maing- masing. Pemerintah dengan kebijakan yang pro petani dan sebagai masyarakat yang tidak bergelut lansung di bidang pertanian dengan cara membeli hasil produk pertanian lokal kita.  Saatnya dari petani kita untuk kita agar Indonesia Jaya.
Oleh      : Dedi
Mahasiswa  Fisipol Untan dari Kab. Sambas