Sabtu, 01 Mei 2010

SISTEM ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN

SISTEM ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN

Intansi Vertikal
Ada 2 yaitu : 1, Pada wilayah provinsi ( berdasarkan kewenagan pusat dalam bidang politik laur negeri, keuangan,peradilan,agam, pertahanan dan keamana. ). 2, Pada wilayah kabupaten ayau kota.
System Kepegawaian Daerah ada 3 sistem pengelolaan kepegawaian : 1, Integrated system ( manajemen kepegawain ditentukan pusat ), 2. Separated system ( dilaksanakan masing – masing daerah ), 3. Unified system ( lembaga di tingkat nasional yang khusus dibentuk untuk keperluan tersebut.
Kepegawaian negeri terdiri : PNS, anggota TNI, dan POLRI
Formasi dan Perekrutan Pegawai
Formasi PNS terdiri : Formasi PNS pusat dan Formasi PNS daerah

Kewenangan Pemerintah Dan Distribusinya

UU No 5 tahun 1974 pasal (1) :
Kewenangan pemerintah umum, Kristiandi (1992), kewenagan ini meliputi pengsaturan kehidupan politik,social,ketertiban,pertahanan dan keamanan.
Kewenangan diluar kewenagan pemerintahan umum,meliputi penyediaan pelayanan masyarakat dalam arti luas,seperti pelayanan kesehatan,pos dan telekomunikasi.
Homes (1991)

Dasar pendistribusian kewenangan antara pusat dan daerah terdiri dari 2 :
 berdasarkan pada basis kewilayahan ( teitorial )
 berdasarkan basis fugsional.
 Pada basis territorial kewenagan untuk menyelengarakan urusan – urusan local distribusikan antara satuan wilayah dan pemerintahan local.
 Pada basis fugsional kewenagan untuk menyelenggarakan urusan – urusan local didistribusikan antara kementrian – ementrian pusat yang bersifat khusus dan egen – egen yang berada diluar knator pusat sebagai pelaksana kebijakan darinya.

HOMES IV (1991) Dasar pendistribusaian kewenagan antara pusat dan daerah terri dari dua pendekatan.

 Berdasrkan pada basis kewilayahan ( teritorial)
 Pada basis territorial kewenagan untuk menyelengarakan urusan local didistribusikan diantara satuan wilayah dan pemerintah local.
 Pada basis fungsional kewenagan untuk menyelenggarakan urusan local didistribusikan antara kementrian pusat yang bersifat khusus dan again- agenya yang berada diluar kantor pusatnya sebagai pusat pelaksasnaan kebijakan darinya.
 Empat variasi pengendalian penyelengaraan pemerintahan yang bersifat local :

• Organisasi intenal
• Hybrid ( subsidi )
• Hybrird super visi
• Anta organisasi

Penyerahan wewenag pemerintah pusat kepada daerah terdira atas :

 Materi wewenag.
 Manusia yang diserahi wewenag.
 Wilayah yang diserahi wewenag.
Penyerahan wewenag pemerintahan pusat kedaerah dilakukan dengan cara :

 Ultra vires dokrin.
 Open end arrangement atau genersi kompeten.

Kewenagan pemerintah pusat :
 Politik luar negeri.
 Pertahanan dan keamanan.
 Yustisi ( peradilan ).
 Moneter dan fisikal nasional.
 Agama

Kewenagan provinsi dan kabupaten/ kota :
 Perencanaan dan pengendalian pembangunan.
 Perencanaan, pengawasn dan pemanfaatan tata ruang.
 Penyelengaraan ketertipan umum dan ketentraman masyrakat.
 Penyedian sarana dan prasarana umum.
 Penaganan bidang kesehatan.
 Penyelengaraan bidang pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial.
 Penaggulanga masalah social lintas kabupaten.
 Fasilitasi pengembangan koperasi,usaha kecil da menegah.
 Pengendalian lingkungan hidup.
 Pelayanan pertahanan.
 Pelayanan kependudukan dan capil
 Pelayanan administrasi uum pemerintahan.
 Pelayanan administrasi penanaman modal.
 Pelayanan dsar lainya.
 Urusan wajib lainya yang diamankan oleh peraturan uu.

Kewengan pemerintah pusat ekuasaan presiden sebagi kepala perintah pusat :
 segai eksekuti.
 Sebagai legislative.

Kekuasan presiden sebagai kepala Negara.
Mentri dibagi atas empat jenis : mentri,coordinator.memimpin depertemen,non depertemen, mentri negar

Dalam UU no.32/2004 pasal 10 ayat 3 tentang kewenagan pemerintah pusat antara lain.
 Politik luar negeri pertahanan
 Keamanan
 Perasilan
 Moneter dan fisikal
 Agama
TUGAS INDIVIDU
‘ sistem administrasi negara indonesia “



Disusun :


Dedi
E01107024











FAKULTAS ILMU SOSIALDAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
P O N T I A N A K
2 0 09













PERKEMBAGANSIM DALAM ORGANISASI BISNIS
10 Mei 2008
BAB I
PENDAHULUAN
ABSTRAK
Sistem Informasi Managemen (SIM) merupakan sebuah bidang yang mulai berkembang semenjak tahun 1960-an. Walau tidak terdapat konsensus tunggal, secara umum SIM didefinisikan sebagai sistem yang menyediakan informasi yang digunakan untuk mendukung operasi, managemen, serta pengambilan keputusan sebuah organisasi. SIM juga dikenal dengan ungkapan lainnya seperti: “Sistem Informasi”, “Sistem Pemrosesan Informasi”, “Sistem Informasi dan Pengambil Keputusan”
Judul makalah ini mengandung tanda tanya. namun, mohon untuk tidak ditafsirkan bahwa di Indonesia tidak terdapat kegiatan penelitian yang berhubungan dengan SIM. Justru, diasumsikan bahwa kegiatan tersebut telah ada (exists) sehingga tidak ada klaim bahwa perlu melakukan perintisan bidang ini dari nol. namun, bidang ini telah berkembang secara paralel di berbagai bidang ilmu yang telah mapan seperti Ilmu Komputer, Bisnis dan Managemen, Psikologi, dan sebagainya.
Salah satu konsensus yang didapatkan, bahwa setidaknya terdapat lima aspek yang dapat dikategorikan sebagai ciri khusus bidang SIM :
ü Proses Managemen, seperti “Perencanaan Strategis”, “Pengelolaan Fungsi Sistem Informasi”, dan seterusnya.
ü Proses Pengembangan, seperti “Managemen Proyek Pengembangan Sistem”, dan seterusnya.
ü Konsep Pengembangan, seperti “Konsep Sosio-teknikal”, “Konsep Kualitas”, dan seterusnya.
ü Representasi, seperti “Sistem Basis Data”, “Pengkodean Program”, dan seterusnya.
ü Sistem Eplikasi, seperti “Knowledgey Management”, “Executivey System”, dst.
BAB II
PEMBAHASAN

A. TEKNOLOGI INFORMASI & SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Teknologi Informasi merupakan teknologi yang dibangun dengan basis utama teknologi komputer. Perkembangan teknologi komputer yang terus berlanjut membawa implikasi utama teknologi ini pada proses pengolahan data yang berujung pada informasi. Hasil keluaran dari teknologi komputer yang merupakan komponen yang lebih berguna dari sekedar tumpukan data, membuat teknologi komputer dan teknologi pendukung proses operasinya mendapat julukan baru, yaitu teknologi informasi.
Teknologi informasi disusun oleh tiga matra utama teknologi yaitu :
1. Teknologi komputer, yang menjadi pendorong utama perkembangan teknologi informasi
2. Teknologi telekomunikasi, yang menjadi inti proses penyebaran informasi.
3. Muatan informasi atau content informasi, yang menjadi faktor pendorong utama implementasi teknologi informasi.
Kenyataan sejarah dunia mencatat masing-masing dari ketiga matra penyusun teknologi informasi di atas, pada awalnya berkembang saling terpisah. Teknologi komputer berkembang dalam lingkup matematika dan cenderung lebih teoritis. Teknologi telekomunikasi berkembang luas dalam dunia bisnis dan ekonomi menjadi pilar pendukung teknologi transportasi dalam revolusi industri. Sedangkan ilmu informasi muncul pada awal perang dunia II. Kemenangan dan kekalahan sebuah pasukan di medan perang dunia II ditentukan oleh akurasi informasi. Setelah itu, konsep ilmu informasi berkembang pesat.
B. AKTIVITAS SISTEM INFORMASI
Aktivitas proses pengolahan informasi pada dasarnya terbagi atas aktivitas input, proses, output, storage, dan control.
1. Kerangka Kerja Sistem Informasi Manajemen
Sistem informasi manajemen berhubungan dengan banyak teknologi yang kompleks, behavioral concept, dan aplikasi khusus pada area bisnis dan non bisnis yang tidak terhitung banyaknya.
Kerangka Kerja Kerja Sistem Informasi Manajemen, meliputi :
ü Foundation Concepts (Membuat konsep sistem informasi)
ü Development Procesess (pengembangan sistem informasi)
ü Business Aplications
ü Management Challenges
ü Information Technologies
Perancangan, penerapan dan pengoperasian SIM adalah mahal dan sulit. Upaya ini dan biaya yang diperlukan harus ditimbang-timbang. Ada beberapa faktor yang membuat SIM menjadi semakin diperlukan, antara lain bahwa manajer harus berhadapan dengan lingkungan bisnis yang semakin rumit. Salah satu alasan dari kerumitan ini adalah semakin meningkatnya dengan munculnya peraturan dari pemerintah.
Lingkungan bisnis bukan hanya rumit tetapi juga dinamis. Oleh sebab itu manajer harus membuat keputusan dengan cepat terutama dengan munculnya masalah manajemen dengan munculnya pemecahan yang memadai. Sistem informasi manajemen SIM bukan sistem informasi keseluruhan, karena tidak semua informasi di dalam organisasi dapat dimasukkan secara lengkap ke dalam sebuah sistem yang otomatis. Aspek utama dari sistem informasi akan selalu ada di luar sistem komputer.
1. Manfaat SIM Dalam Organisasi Bisnis
Pengembangan SIM memerlukan sejumlah orang yang berketrampilan tinggi dan berpengalaman lama dan memerlukan partisipasi dari para manajer organisasi. SIM yang baik adalah SIM yang mampu menyeimbangkan biaya dan manfaat yang akan diperoleh artinya SIM akan menghemat biaya, meningkatkan pendapatan serta tak terukur yang muncul dari informasi yang sangat bermanfaat.
Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam keinginan mereka, cermat dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai keinginan serta wajar dalam menentukan batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh, maka SIM yang dihasilkan akan memberikan keuntungan dan uang.
Secara teoritis komputer bukan prasyarat mutlak bagi sebuah SIM, namun dalam praktek SIM yang baik tidak akan ada tanpa bantuan kemampuan pemrosesan komputer.
Prinsip utama perancangan SIM : SIM harus dijalin secara teliti agar mampu melayani tugas utama. Tujuan sistem informasi manajemen adalah memenuhi kebutuhan informasi umum semua manajer dalam perusahaan atau dalam subunit organisasional perusahaan. SIM menyediakan informasi bagi pemakai dalam bentuk laporan dan output dari berbagai simulasi model matematika.
C. PERANAN SISTEM INFORMASI DALAM BISNIS
Sistem informasi mempunyai 3 tugas utama dalam sebuah organisasi, yaitu:
ü Mendukung kegiatan-kegiatan usaha/operasional
ü Mendukung pengambilan keputusan manajemen
ü Mendukung persaingan keuntungan strategis
Beberapa sistem informasi dapat diklasifikasikan sebagai sistem informasi operasi atau manajemen, sementara yang lainnya menjalankan berbagai macam fungsi.
1. Peranan Proses Bisnis Dan Operasional
Peranan sistem informasi untuk operasi bisnis adalah untuk memproses transaksi bisnis, mengontrol proses industrial, dan mendukung komunikasi serta produktivitas kantor secara efisien.
a. Transaction Processing Systems (TPS)
TPS berkembang dari sistem informasi manual untuk sistem proses data dengan bantuan mesin menjadi sistem proses data elektronik (electronic data processing systems). TPS mencatat dan memproses data hasil dari transaksi bisnis, seperti penjualan, pembelian, dan perubahan persediaan/inventori. TPS menghasilkan berbagai informasi produk untuk penggunaan internal maupun eksternal. Sebagai contoh, TPS membuat pernyataan konsumen, cek gaji karyawan, kuitansi penjualan, order pembelian, formulir pajak, dan rekening keuangan.
b. Process Control Systems (PCS)
Sistem informasi operasi secara rutin membuat keputusan yang mengendalikan proses operasional, seperti keputusan pengendalian produksi. Hal ini melibatkan process control systems (PCS) yang keputusannya mengatur proses produksi fisik yang secara otomatis dibuat oleh komputer. Kilang minyak petroleum dan assembly lines dari pabrik-pabrik yang otomatis menggunakan sistem ini.
c. Office Automation Systems (OAS)
OAS mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan mengirim data dan informasi dalam bentuk komunikasi kantor elektronik. Contoh dari office automation (OA) adalah word processing, surat elektronik. electronic mail, teleconferencing, dan lain-lain.
2. Peranan Pengambilan Keputusan
Sistem Informasi Manajemen menyediakan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan manajemen. Sistem ini terdiri atas beberapa tipe, yaitu:
a. Laporan spesifikasi dan rencana awal untuk para manajer dikerjakan oleh information reporting systems ( sistem pelaporan informasi).
b. Dukungan ad hoc dan interaktif untuk pengambilan keputusan oleh manajer dikerjakan oleh decision support systems (sistem pendukung keputusan).
c. Informasi kritikal untuk manajemen atas ditetapkan oleh executive information systems ( sistem informasi eksekutif)
d. Nasehat pakar untuk pengambilan keputusan operasional atau manajerial ditetapkan oleh expert systems (sistem pakar) dan knowledge-based information systems (sistem informasi berbasis pengetahuan lainnya).
e. Dukungan langsung dan terus untuk aplikasi operasional dan manajerial dari end users ditetapkan oleh end user computing systems.
f. Aplikasi operasional dan manajerial dalam mendukung fungsi bisnis ditetapkan oleh business function information systems.
g. Produk dan layanan jasa yang bersaing untuk mencapai keuntungan strategis ditetapkan oleh strategic information systems.
Dalam dunia kerja nyata, sistem informasi yang digunakan merupakan kombinasi dari berbagai macam sistem informasi yang telah disebutkan di atas. Pada prakteknya, berbagai peranan tersebut diintegrasi menjadi suatu gabungan atau fungsi-silang. cross-functional sistem informasi yang menjalankan berbagai fungsi.
3. Peranan Persaingan Keuntungan Strategis
Sistem informasi dapat memainkan peran yang besar dalam mendukung tujuan strategis dari sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan dapat bertahan dan sukses dalam waktu lama jika perusahaan itu sukses membangun strategi untuk melawan kekuatan persaingan yang berupa :
ü Persaingan dari para pesaing yang berada di industri yang sama,
ü Ancaman dari perusahaan baru,
ü Ancaman dari produk pengganti,
ü Kekuatan tawar-menawar dari konsumen, dan
ü Kekuatan tawar-menawar dari pemasok.
Beberapa strategi bersaing yang dapat dibangun untuk memenangkan persaingan adalah:
ü Cost leadership. keunggulan biaya-menjadi produsen produk atau jasa dengan biaya rendah.
ü Product differentiation. perbedaan produk-mengembangkan cara untuk menghasilkan produk atau jasa yang berbeda dengan pesaing.
ü Innovation-menemukan cara baru untuk menjalankan usaha, termasuk di dalamnya pengembangan produk baru dan cara baru dalam memproduksi atau mendistribusi produk dan jasa.
1. MANFAAT STRATEGIS UNTUK SISTEM INFORMASI
Manfaat sistem informasi manajemen. SIM dapat menolong perusahaan untuk :
1. Meningkatkan Efisiensi Operasional
Investasi di dalam teknologi sistem informasi dapat menolong operasi perusahaan menjadi lebih efisien. Efisiensi operasional membuat perusahaan dapat menjalankan strategi keunggulan biaya low-cost leadership.
Dengan menanamkan investasi pada teknologi sistem informasi, perusahaan juga dapat menanamkan rintangan untuk memasuki industri tersebut (barriers to entry) dengan jalan meningkatkan besarnya investasi atau kerumitan teknologi yang diperlukan untuk memasuki persaingan pasar. Selain itu, cara lain yang dapat ditempuh adalah mengikat (lock in) konsumen dan pemasok dengan cara membangun hubungan baru yang lebih bernilai dengan mereka.
2. Memperkenalkan Inovasi Dalam Bisnis
Penggunaan ATM. automated teller machine dalam perbankan merupakan contoh yang baik dari inovasi teknologi sistem informasi. Dengan adanya ATM, bank-bank besar dapat memperoleh keuntungan strategis melebihi pesaing mereka yang berlangsung beberapa tahun.
Penekanan utama dalam sistem informasi strategis adalah membangun biaya pertukaran (switching costs) ke dalam hubungan antara perusahaan dengan konsumen atau pemasoknya. Sebuah contoh yang bagus dari hal ini adalah sistem reservasi penerbangan terkomputerisasi yang ditawarkan kepada agen perjalanan oleh perusahaan penerbangan besar. Bila sebuah agen perjalanan telah menjalankan sistem reservasi terkomputerisasi tersebut, maka mereka akan segan untuk menggunakan sistem reservasi dari penerbangan lain.
3. Membangun Sumber-Sumber Informasi Strategis
Teknologi sistem informasi memampukan perusahaan untuk membangun sumber informasi strategis sehingga mendapat kesempatan dalam keuntungan strategis. Hal ini berarti memperoleh perangkat keras dan perangkat lunak, mengembangkan jaringan telekomunikasi, menyewa spesialis sistem informasi, dan melatih end users.
Sistem informasi memungkinkan perusahaan untuk membuat basis informasi strategis (strategic information base) yang dapat menyediakan informasi untuk mendukung strategi bersaing perusahaan. Informasi ini merupakan aset yang sangat berharga dalam meningkatkan operasi yang efisien dan manajemen yang efektif dari perusahaan. Sebagai contoh, banyak usaha yang menggunakan informasi berbasis komputer tentang konsumen mereka untuk membantu merancang kampanye pemasaran untuk menjual produk baru kepada konsumen.
Fungsi dari sistem informasi tidak lagi hanya memproses transaksi, penyedia informasi, atau alat untuk pengambilan keputusan. Sekarang sistem informasi dapat berfungsi untuk menolong end user manajerial membangun senjata yang menggunakan teknologi sistem informasi untuk menghadapi tantangan dari persaingan yang ketat. Penggunaan yang efektif dari sistem informasi strategis menyajikan end users manajerial dengan tantangan manajerial yang besar
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sistem Informasi Manajemen mempunyai 3 tugas utama di dalam sebuah organisasi
a. Mendukung proses bisnis dan operasional
b. Mendukung pengambilan keputusan
c. Mendukung strategi untuk keunggulan kompetitif.
Kerangka Kerja Kerja Sistem Informasi Manajemen, meliputi :
a. Foundation Concepts (Membuat konsep sistem informasi)
b. Development Procesess (pengembangan sistem informasi)
c. Business Aplications
d. Management Challenges
e. Information Technologies
SIM dapat menolong perusahaan untuk :
a. Meningkatkan efisiensi operasional
b. Memperkenalkan inovasi dalam bisnis
c. Membangun sumber-sumber informasi strategis
Secara teoritis komputer bukan prasyarat mutlak bagi sebuah SIM, namun dalam praktek SIM yang baik tidak akan ada tanpa bantuan kemampuan pemrosesan komputer
B. SARAN
Banyak cara yang dilakukan oleh perkembangan teknologi informasi untuk mendukung bisnis sebuah perusahaan. Selain murah, fleksibel, dan mudah, penggunaan teknologi ini telah banyak digunakan saat ini, tidak terkecuali di Indonesia. Berbagai aplikasi seperti perbankan, pendidikan bahkan entertainment telah menggunakan sistem Informasi sebagai pelengkap fasilitas bagi pelanggannya.
DAFTAR PUSTAKA
Wahyudi Kumorotomo dan Subandono Agus Margono. 1998. Sistem Informasi Manajemen dalam Organisasi Publik. Yogyakarta; Gadjah Mada University Press
G. Davis, Information Systems Conceptual Foundations :Looking B’ackward and Forward, Organizational and Social Perpectives on Information Technolog, R.L Baskerville et.al. (eds), 2000,61-82.
R.L Baskerville and M. D. Myers, Information Sistems as A Reference Ciscipline, MIS Quarterl , 26 (1) March 2002, 1-1
http://www..student-stie-mce.ac.id
http://www.heri_abi.staff.ugm.ac.id
www.yetti.blogster.com
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang masih memberi kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan makalah dengan judul : Sistem Informasi Manajemen dalam Organisasi Bisnis.
Penyusunan makalah ini kami perbuat untuk memenuhi tugas mata kuliah pada Bidang Study Sistem Informasi Manajemen, selanjutnya pada makalah ini materi yang paling mendapat perhatian adalah bagaimana peranan kegiatan bisnis, Konsep dan sistem bisnis, Mengenal teori dasar bisnis dan arah perkembangan teori bisnis, Mengenal peranan SIM dalam kegiatan bisnis, dan manfaat Sistem Informasi dalam bisnis.
Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, hal itu bukan kami sengaja, melainkan keterbatasan ilmu yang dimiliki penyusun dan referensi yang tersedia. Oleh karenanya kami membuka pintu kritik dan saran yang sifatnya membangun sehingga makalah ini benar-benar dapat di terima oleh para pembaca
Kamis, 13 Desember 2007
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………… i
DA.TAR ISI……………………………………………………………………………………… ii
BAB I. PENDAHULUAN………………………………………………………………… 1
BAB II. PEMBAHASAN………………………………………………………………….. 2
PERANAN SIM DALAM ORGANISASI BINIS…………………………………… 2
A. TEKNOLOGI INFORMASI DAN SIM…………………………….. 2
B. KUALITAS SISTEM INFORMASI………………………………….. 3
1. Kerangka Kerja Sistem Informasi Manajemen………………….. 3
2. Manfaat SIM Dalam Organisasi Bisnis……………………………. 4
C. PERANAN SISTEM INFORMASI DALAM BISNIS………….. 6
1. Peranan Proses Bisnis Dan Operasional………………………….. 6
2. Peranan Pengambilan Keputusan……………………………………. 7
3. Peranan Persaingan Keuntungan Strategis………………………… 8
D. MANFAAT STRATEGIS UNTUK SISTEM INFORMASI….. 9
1. Meningkatkan efisiensi operasional…………………………………. 9
2. Memperkenalkan inovasi dalam bisnis…………………………….. 9
3. Membangun sumber-sumber informasi strategis………………… 10
BAB III. PENUTUP…………………………………………………………………………… 11
A. KESIMPULAN………………………………………………………………. 11
B. SARAN…………………………………………………………………………. 11
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………. 12
Entry Filed under: Makalah. Tag: SIM, oraganisasi bisnis, informasi bisnis.








Blogroll
• friendster.com
• lizanda.multiply.com
• muslimin.zzn.com
• myquran
• myquran.com
• WordPress.com
• WordPress.org
• yahoo.com
Arsip

Yang Lagi HOT
• Tutorial Membuat Layout Friendster
• PERANAN SIM DALAM ORGANISASI BISNIS
• Ilmu atau Harta…?
• LPJ BEM STIEKOM RAP
• 10 MITOS KELIRU
Meta
• Masuk log
• RSS Entri
• RSS Komentar
• WordPress.com
Monggo Tanggapannya
asuna17 di Tutorial Membuat Layout F…
BJ di Tutorial Membuat Layout F…
Get your own Box.net widget and share anywhere!
Author
• lizanda
Statistik Blog
• 2,599 hits
Pencarian untuk:


Theme: Blix by Sebastian Schmieg . Blog pada WordPress.com.









PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA DUNIA KERJA


Yusuf Arifin
Personal Web : www.yusufarifin.net
Email : yusarifin@gmail.com

1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi pada saat ini

1. Teknologi Informasi dan Paradigma Ekonomi
Teknologi Informasi, selanjutnya disebut TI, merupakan perpaduan antara teknologi komputer dengan teknologi komunikasi, sehingga sering diistilahkan juga dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Penggunaan teknologi informasi dalam kehidupan masyarakat sudah menjadi program global dalam rangka mengembangkan masyarakat berbasis pengetahuan, karena teknologi informasi telah mendorong umat manusia untuk senantiasa melakukan inovasi yang timbul dari kreativitas dan pengetahuannya. Untuk skala makro inovasi yang berbasis pada kemajuan teknologi informasi, secara signifikan akan meningkatkan standar hidup masyarakat dan mendukung pada pertumbuhan ekonomi bangsa.
Sebagai contoh nyata dalam konteks ekonomi mikro, sumberdaya produksi tidak lagi cukup mengandalkan komponen sistem fisik saja, dimana sistem tersebut hanya menerima masukan dari lingkungan berupa sumberdaya berupa 5M (man, money, material, method dan machine) dan melakukan proses transformasi yg bersifat materialistik serta menghasilkan keluaran berupa produk atau jasa. Akan tetapi sumberdaya produksi juga harus didukung oleh sistem manajerial yang sangat sarat dengan sumberdaya informasi, karena dalam sistem manajerial, baik input maupun outputnya sama-sama berupa informasi. Oleh karena itu sistem manajerial sering dikatakan sebagai proses transformasi terhadap informasi. Sudah barang tentu informasi yang dihasilkan melalui sistem manajerial tersebut harus memenuhi kriteria informasi yang berkualitas, karena informasi yang dihasilkan akan digunakan sebagai dasar dalam proses pengambilan keputusan, guna mengendalikan atau mengarahkan sistem fisik dalam mencapai objektifnya. Untuk menghasilkan informasi yang berkualitas tersebut, tidak mungkin dicapai tanpa dukungan teknologi informasi yang berperan mulai dari proses pengkoleksian data, pengolahan data, proses pengambilan keputusan, sampai proses diseminasi informasi.

Penggunaan Teknologi informasi dalam transaksi ekonomi sudah merubah sejumlah paradigma ekonomi dan prilaku organisasi bisnis dalam melangsungkan kegiatan usahannya. Teknologi informasi mampu menembus batas wilayah, negara dan benua, memecah hambatan geografis, waktu, biaya dan struktural. Sehingga para pelaku bisnis dapat melakukan ekspansi seluas-luasnya dan seakan tak terbatas. Berbagai peluang telah tercipta dan telah menjadi penggerak ekonomi secara global.
Dewasa ini muncul fenomena, bahwa sebuah paradigma ekonomi baru telah lahir, Sebagian menamakannya sebagai e-economy, sementara yang lainnya lebih suka menggunakan istilah-istilah semacam internet economy, digital economy, new economy dan lain sebagainya. Namun banyak pula yang menilai, bahwa paradigma ekonomi baru tersebut sebenarnya tidak ada, yang ada adalah ”The old economy with the new technology”. Terlepas dari benar tidaknya adanya paradigma tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi, telah banyak memberi kontribusi yang nyata dalam berbagai kehidupan manusia, termasuk dalam berbagai aktifitas ekonomi dan dunia usaha.

2. Teknologi Informasi sebagai Komoditas Stratejik
Dalam perkembangan perubahan lingkungan dunia usaha yang begitu cepat pada saat ini, telah menjadikan TI sebagai komponen vital yang dapat membantu berbagai aktifitas dunia usaha untuk tetap dapat memenuhi sasaran bisnis yang diinginkan. Bahkan pada saat ini, TI telah menjadi komoditas yang tidak dapat ditinggalkan untuk memenuhi tantangan perubahan, guna mencapai tujuan stratejik dari dunia usaha tersebut. Yang antara lain dapat meliputi internetworking antar pelaku bisnis, internetworking antar perusahaan, rekayasa proses bisnis (process business reengineering), dan pengunaan TI untuk memperoleh keuntungan kompetitif.
Berbagai peluang dari TI sebagai komoditas terurama sekali terkait dengan perkembangan sistem informasi berbasis komputer yang mengunakan 4 unsur utama, yaitu :
• Technoware terdiri dari piranti keras (hardware), piranti lunak (software) dan peralatan komunikasi data (data communication device).
• Humanware atau unsur sumber daya manusia (SDM).
• Infoware berupa basis data
• Organiware berupa organisasi dan manajemen.
Keempat unsur tersebut bersinergi untuk mentransformasikan sumber-sumber data menjadi berbagai produk informasi. Namun hal ini tidak berarti bahwa TI sebagai komoditas tidak mempunyai tantangan, terutama sekali yang berkaitan dengan issue sekuritas dan pengendaliannya.
Dalam penggunaanya, kualitas dan kinerja dari penggunaan TI dalam berbagai organisasi harus dikendalikan. Seperti halnya asset bisnis vital lainnya, sumber daya TI perlu diproteksi oleh sistem pengendalian yang bersifat terpadu guna menjamin kualitas dan sekuritasnya.
Berbagai peluang dan tantangan akan terus terbuka bagi TI sebagai komoditas di era globalisasi, TI bersama-sama dengan sistem informasi tidak hanya berupa serangkaian teknologi yang dapat memberikan dukungan terhadap kolaborasi kelompok dunia usaha dari sejumlah perusahaan, pengoperasian bisnis yang efisien, atau pembuatan keputusan manajerial yang effektif, melainkan TI dapat terus berkembang selaras dengan perkembangan kompetisi bisnis. Oleh karena itu, TI sebagai komoditas di era kompetitif harus dipandang sebagai komoditas stratejik yang mampu menyediakan jejaring vital yang kompetitif, mampu menjadi alat pembaharu organisasi, dan dapat dijadikan sebagai investasi yang dapat membantu perusahaan mencapai tujuan stratejik perusahaan.
Sebagai komoditas, TI mempunyai peran stratejik dalam bisnis diantaranya untuk mengembangkan kualitas produk, kualitas pelayanan, dan kapabilitas proses yang mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan berupa keuntungan stratejik guna menghadapi pasar global.

3. Teknologi Informasi Pendukung Strategi Kompentitif Bisnis
Untuk mengetahui berbagai peluang dan tantangan TI sebagai komoditas di era kompetitif, maka perlu untuk memahami kaitan antara TI dan konsep strategi kompetitif. Penggunaan TI dalam organisasi bisnis dapat memainkan tiga peran utama yang dianggap penting, yaitu ;
a) Memberikan dukungan terhadap operasional bisnis secara internal,
b) Memberikan dukungan terhadap manajerial pembuatan keputusan, dan
c) Memberikan dukungan terhadap pencapaian objektif organisasi serta pencapaian keuntungan kompetitif strategis.
Model klasik Michael Porter mengenai strategi kompentitif, suatu perusahaan akan dapat bertahan dan sukses dalam perjalanan jangka panjangnya, jika perusahaan tersebut berhasil mengembangkan dan mengimplementasikan berbagai strategi untuk secara efektif mengatasi lima competitive force (tekanan kompentitif) yang dapat menajamkan struktur kompetisi dalam lingkungan industrinya, yaitu ;
a) Rivalitas kompetitor dalam industri dan pasarnya,
b) Ancaman pendatang baru dalam industri dan pasarnya,
c) Ancaman yang dihadapi karena adanya produk pengganti yang dapat merebut pangsa pasar,
d) Daya tawar pelanggan, dan
e) Daya tawar pemasok.
Dalam kaitan dengan hal tersebut, TI harus dapat memberikan dukungan penuh bagi perusahaan agar dapat mengembangkan berbagai strategi kompetitif guna melawan kelima competitive force itu.
Di bawah ini diberikan rangkuman dari berbagai strategi kompetitif yang dapat dilakukan dan bagaimana dukungan strategis teknologi informasi dalam mengimplementasikannya;
• Strategi Kepemimpinan dalam Biaya
Yaitu strategi untuk mengkondisikan produsen produk dan jasa agar memiliki biaya yang rendah dalam operasional bisnisnya, selain itu perusahaan dapat menemukan berbagai cara untuk membantu para pemasok atau pelanggan untuk mengurangi biaya operasional bisnisnya.
Dukungan strategis TI dalam strategi ini adalah :
TI harus dapat secara substansial mereduksi biaya yang digunakan dalam proses bisnis perusahaan dan mereduksi biaya produksi yang akan berdampak pada pengurangan beban biaya yang harus dikeluarkan oleh para pelanggan dan pemasok perusahaan.
Contoh: Pemesanan spesifikasi produk dilakukan secara on-line di internet, Penawaran penjualan dilakukan secara on-line di internet atau lelang barang dilakukan secara on-line di internet.
• Strategi Diferensiasi
Yaitu strategi untuk mengembangkan berbagai cara untuk melakukan diferensiasi (perbedaan) produk dan jasa dari para pesaing atau mengurangi keunggulan diferensiasi para pesaingnya. Hal ini dapat memungkinkan perusahaan untuk berfokus pada produk dan jasa agar unggul dalam segmen atau ceruk pasar tertentu.
Dukungan startegis TI dalam stratregi ini adalah :
TI harus mampu memberikan fitur yang dapat membedakan produk dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.
TI harus mampu memberikan fitur untuk mengurangi keuntungan deferensiasi yang dapat dicapai oleh kompetitor (menjadikan produk dan jasa kompetitor menjadi tidak atraktif).
TI harus memberikan fitur untuk memfokuskan pada ceruk pasar yang dipilih.
Contoh : Mendesain produk spesifik untuk pelanggan secara on-line di internet.
• Strategi Inovasi
Yaitu strategi untuk menemukan berbagai cara baru untuk melakukan bisnis. Hal ini dapat melibatkan proses pengembangan berbagai produk dan jasa yang unik, atau memasuki ceruk pasar yang unik. Strategi ini dapat memberikan dampak pada perubahan kultur bisnis secara radikal atas proses bisnis, baik dalam memproduksi maupun dalam mendistribusikan produk dan jasa yang berbeda dengan proses bisnis sebelumnya.
Dukungan strategis TI dalam strategi ini adalah :
TI harus mampu membuat produk dan jasa yang inovatif.
TI harus mampu menciptakan perubahan radikal dalam proses bisnis yang secara dramatis dapat berdampak pada pemangkasan biaya, meningkatkan kualitas, efisiensi layanan terhadap pelanggan serta mempersingkat penyampaian produk dan jasa ke pelanggan.
Cotoh : Pemesanan Tiket dan manajemen penerbangan secara on-line, sistem layanan total untuk pelanggan secara on-line, transaksi perbankan secara on-line, dll.
• Strategi Pertumbuhan
Yaitu strategi untuk menstimulan perusahaan agar secara signifikan memperluas kemampuan perusahaan dalam memproduksi barang dan jasa, mengembangkan ke pasar global, maupun melakukan deversifikasi produk dan jasa yang baru.
Dukungan strategis TI dalam startegi ini adalah :
Penggunaan TI harus memungkinkan perusahaan untuk melakukan manajemen regional maupun manajemen bisnis global, sehingga TI mampu mendiversifikasi dan mengintegrasikan berbagai produk dan jasa lainnya.
Contoh : Pemesanan barang melalui jaringan satelit global, mengembangkan pemasaran on-line di internet, membangun jaringan satelit canggih yang dapat menghubungkan terminal titik penjualan (point of sale) di sejumlah lokasi.
• Strategi Aliansi
Yaitu strategi untuk membangun aliansi bisnis baru dengan pelanggan, pemasok, pesaing, konsultan dan perusahaan lainnya. Hubungan aliansi ini dapat berbentuk merger, akuisisi atau kerjasama saling menguntungkan.
Dukungan strategis TI dalam strategi ini:
TI dapat membantu perusahaan untuk menciptakan organisasi virtual dengan berbagai patner bisnisnya, dan mampu mengembangkan sistem informasi inter-organisasional yang terhubungkan dengan Internet, extranet, atau jejaring lainnya sehingga dapat mendukung relasi bisnis strategis dengan para konsumen, supplier, sub-kontraktor, dan lain sebagainya.
Contoh : Membangun jaringan bisnis di internet baik secara B2C (Business to Costumer) maupun B2B (Business to Business).
Pada intinya TI harus mampu untuk secara dramatis meningkatkan kualitas dari produk dan jasa, mampu memberikan dukungan improvisasi yang berkelanjutan terhadap efisiensi dari proses bisnis, dan mampu untuk secara substansial memperpendek waktu yang diperlukan untuk mengembangkan, memproduksi, dan mengirim produk dan jasa.
4. Dampak Teknologi Informasi pada Dunia Usaha.
Dengan diperankannya TI pendukung strategis pada kegiatan bisnis suatu perusahaan, maka hal itu secara signifikan akan berdampak pada perubahan teknis dalam operasional bisnisnya. Secara fundamental pemberdayaan teknologi informasi pada kegiatan dunia usaha, akan mengakibatkan dunia usaha mengalami pergeseran paradigma struktur pasar, lokasi pasar, organisasi bisnis dan proses bisnis. Pergeseran tersebut diantaranya adalah ;
• Bergesernya paradigma dunia usaha yang semula menganut konsep ”Marketplace” yaitu proses bisnis yang berorientasi pada interaksi antar penjual dan pembeli secara fisik, menjadi ”Marketspace” yaitu proses bisnis yang mengandalkan teknologi informasi sebagai media untuk mempertemukan antara penjual dan pembeli dalam melakukan transaksi bisnisnya secara on-line.
• Bergesernya paradigma dunia usaha yang semula menganut model ”Geografic Business model” atau ”Location Base” yaitu proses bisnis yang mempertemukan penjual dan pembeli melakukan tranformasi informasi produk dan jasa di lokasi yang sama, menjadi ”Global Business Model” atau ”Virtual Based”, yaitu proses bisnis yang mengandalkan teknologi informasi sebagi media tranformasi informasi produk dan jasa secara on-line sementara penjual dan pembeli berada di lokasi yang berlainan.
• Bergesernya paradigma organisasi bisnis yang mengedepankan perubahan misi diantaranya sistem produksi yang bersifat ”customized” atau sistem produksi yang berorientasi pada trend pasar, mengintergrasikan seluruh sistem bisnisnya pada fungsional manajemen berbasis TI. Secara otomatis hal ini menuntut akselerasi peningkatan kompetensi, komitmen, kreatifitas dan fleksibilitas seluruh karyawan dalam beradaptasi perubahan lingkungan organisasi bisnisnya.
• Bergesernya paradigma proses bisnis yang mengarah pada:
o Akselerasi direct marketing, dimana promosi harus dilakukan secara interaktif, on-line dan real time. Sehingga pihak perusahaan dapat lebih mendekatkan diri lagi dengan pelanggannya.
o Perluasan saluran distribusi produk dan jasa, baik melaui transfer digital secara on-line, maupun pengiriman produk secara fisik melalui mitra kerja antar perusahaan. Sehingga perusahaan secara otomatis berpeluang untuk memperluas pangsa pasarnya.
o Efisiensi dalam proses transaksi dan efektif dalam pelayanan. Hal ini sangat mungkin terjadi karena pemanfaatan TI dalam transaksi bisnis akan mampu mereduksi berbagai biaya, diantaranya biaya promosi dan biaya koordinasi (manajemen) melalui pola paperless (distribusi data dan informasi dilakukan secara elektronik).
o Inovasi dalam produk dan jasa, karena dengan bantuan TI produk dan jasa dapat disampaikan kepada pelanggan dengan lebih komunikatif, variatif dan eksklusif.

5. Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi, telah banyak memberi kontribusi yang nyata dalam berbagai kehidupan manusia, termasuk dalam berbagai aktifitas ekonomi dan dunia usaha.
Perkembangan perubahan lingkungan dunia usaha yang begitu cepat pada saat ini, telah menjadikan TI sebagai komponen vital yang dapat membantu berbagai aktifitas dunia usaha untuk tetap dapat memenuhi sasaran bisnis yang diinginkan, bahkan TI telah menjadi komoditas guna mencapai tujuan stratejik dari dunia usaha. Namun hal ini tidak berarti bahwa TI sebagai komoditas tidak mempunyai tantangan, terutama sekali yang berkaitan dengan issue sekuritas dan pengendaliannya. Oleh karena itu Dalam penggunaanya, kualitas dan kinerja dari penggunaan TI dalam organisasi harus dikendalikan. Seperti halnya asset bisnis vital lainnya, sumber daya TI perlu diproteksi oleh sistem pengendalian yang bersifat terpadu guna menjamin kualitas dan sekuritasnya.
Faktor penggerak pada pertumbuhan dunia ekonomi telah berubah, yaitu dari upaya memproduksi jumlah berubah menjadi upaya meningkatkan nilai bagi pelanggan yang diyakini dapat memaksimalkan keberhasilah perusahaan dalam mengelola bisnisnya.
Secara fundamental peranan teknologi informasi pada dunia usaha akan mengakibatkan dunia usaha mengalami pergeseran paradigma struktur pasar, lokasi pasar, organisasi bisnis dan proses bisnis.
================== ***** ====================
Yusuf Arifin, Dosen KOPERTIS Wil.IV dpk UNPAS, Dosen Program Sarjana dan Program Pasca Sarjana Magister Manajemen FE-UNPAS, Alumni Pasca Sarjana Program Magister Manajemen UNPAD (Cumlaude), Wakil Sekretaris Asosiasi Perguruan tinggi Swata Indonesia (APTISI) Wilayah IV Jabar-Banten, Sekretaris Asosiasi Perguruan tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) Jabar.

Daftar Pustaka
1. James O’Brain [2005], Introduction to Information System 12th edition, The McGraw-Hill Company, Inc.
2. Laudon.K.C.Laoudon J.P [2000] Magemnet information system, 6th ed. Upper Saddle River,N.J :Prentice Hall International ,Inc.
3. Raymond McLeod & George Schell [2001], Management Information System 8 th, Prentice-Hall, Inc.
4. Richardus Eko Indrajit [2002], Konsep & Aplikasi e-Business, Andi yogyakarta.
5. ---, TEKNOLOGI INFORMASI Pilar Bangsa Indonesia bangkit, , Kementrian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia. Jakarta-2003



Napak Tilas Perkembangan Bisnis Telekomunikasi Indonesia

Napak Tilas Perkembangan Bisnis Telekomunikasi Indonesia
Oleh: Jurnalis J. Hius ST


Telekomunikasi saat ini menjadi komoditas yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, mulai dari lapisan masyarakat menengah ke bawah sampai ke jenjang menengah atas, telekomunikasi menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi dan hampir menjadi kebutuhan primer masyarakat. Penulis saat ini tidak akan membicarakan kebutuhan itu secara mendetail, juga tidak membahas masalah persaingan perusahaan penyedia layanan telekomunikasi di Indonesia, karena kita akan masuk kepada ruang lingkup yang sangat luas seiring dengan beragamnya strategi bisnis yang dijalankan masing-masing perusahaan.

Dalam kesempatan ini, penulis akan mengajak pembaca melihat kembali apa yang terjadi di masa lalu saat telekomunikasi masih berupa mimpi dan akhirnya diwujudkan dalam perjalanan bisnisnya, teknologinya dan regulasinya saat telekomunikasi itu sendiri sekarang menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan. Tidak mungkin sebuah komoditi bisnis tiba-tiba muncul tanpa adanya sebuah metamorfosa rangkaian kehidupannya. Di lain kesempatan, kita akan membahas sejarah telekomunikasi diluar sisi bisnis yang akan kita bicarakan sekarang.
Tahun 1884, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Perusahaan Post-en Telegraafdienst yang menjadi pelopor perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang kemudian dalam perkembangannya kita kenal dengan nama PT. Telkom. Dalam masa sebelum kemerdekaan, perusaahan ini mengalami banyak perubahan nama seiring perubahan fungsi kerja yang dikelola. Hingga sampai tahun 1965, perusaahan yang saat itu bernama PN Postel, dilebur menjadi PN Pos & Giro dan PN Telekomunikasi
Tahun 1966, saat Presiden Soeharto menjabat Presiden Republik Indonesia, karena kesigapannya mengikuti arah pembangunan Indonesia, Presiden Soeharto membentuk Tim Ahli Ekonomi Presiden mendampingi Kabinet Pembangunan Pertama dan mengeluarkan UU nomor 1 tentang Penanaman Modal Asing (PMA), yang menurut penulis adalah strategi pembangunan yang sangat jitu yang menjadi titik awal perkembangan telekomunikasi di Indonesia.
Sebelum Repelita dicanangkan, para pejabat Dirjen Postel sebenarnya sudah mengusulkan kepada Pemerintah agar Indonesia menjadi anggota Intelsat, yang merupakan Konsorsium Telekomunikasi Satelit Internasional yang berdiri tahun 1964. Usul ini didasari kepada Infrastruktur Telekomunikasi Indonesia saat itu masih menggunakan teknologi berfrekuensi tinggi (single-side band dan shortwave) untuk menyelenggarakan telekomunikasi hingga titik terjauh dengan segala macam permasalahannya. Dengan masuknya Indonesia ke Intelsat, diharapkan Indonesia mempunyai standarisasi telekomunikasi internasional.
Adalah Soehardjono, yang menjadi Direktur Jendral Pos dan Telekomunikasi yang pertama di masa Orde Baru dan Sukarno Abdulrahman selaku Direktur Pembangunan PN Telekomunikasi, yang memperjuangkan agar Indonesia menjadi anggota ITU (International Telecomunication Union) dan menjadi founding member dari Intelsat. Dengan menjadikan Telekomunikasi sebagai sarana yang sangat penting dalam menjalankan visi dan misi Orde Baru, Pemerintah menyetujui usulan tersebut meskipun saat itu Pemerintah berada dalam kondisi keuangan yang tidak stabil.
Beranjak dari masalah tersebut, UU tentang Penanaman Modal Asing menjadi sebuah jawaban dari permasalah keuangan. Adalah ITT (International Telephone and Telegraph Corporation), sebuah perusahaan telekomunikasi raksasa Amerika Serikat saat itu yang menjadi perusahaan asing pertama yang menanamkan modalnya di bidang telekomunikasi sekaligus menjadi perusahaan asing kedua setelah Freeport di Papua yang menanamkan modalnya di Indonesia.
Dengan perjanjian kerja sama antara ITT dan Pemerintah Republik Indonesia diwakili Departemen Perhubungan saat itu, dimulailah babak baru perkembangan telekomunikasi di Indonesia, ITT menanamkan modalnya sebesar US$ 6,1 juta untuk membuat stasiun bumi pertama di Indonesia yang bertempat di Jatiluhur. Dalam perjanjian itu juga diatur soal kepemilikan Stasiun, pembagian keuntungan, pembayaran pajak dan hal-hal mengenai pengaturan operasional Stasiun.
29 September 1969, Stasiun diresmikan oleh Presiden dan menjadi hari bersejarah bagi per-telekomunikasian Indonesia dengan penggunaan Stasiun sebagai penyelenggara telekomunikasi internasional via Intelsat. Sesuai dengan perjanjian dan Undang Undang, ITT wajib melembagakan sebuah perusahaan sebagai penyelenggara kerjanya, maka lahirlah PT. Indonesian Satellite Corporation (Indosat) yang akan dipimpin oleh direksi yang berisi perwakilan kedua belah pihak.
Sejak dioperasikannya stasiun Jatiluhur, volume pembicaraan internasional Indonesia meningkat tiap tahunnya dan menjadi sebuah pangsa pasar bisnis yang menggiurkan. Fenomena ini menjadi bumerang bagi para pejabat telekomunikasi lokal, karena pasar yang sedemikian menguntungkan itu harus dibagi dengan pihak asing sesuai dengan MoU yang telah disepakati.
Secara perkembangan teknologi, Perumtel (telah berganti nama), menjadi perusahaan yang merasa paling dirugikan oleh kehadiran Indosat, karena Perumtel saat itu tidak mendapatkan bagian apa-apa dari percakapan internasional, padahal percakapan itu juga memakai jasa Perumtel yang menangani percakapan nasional. Sebagai contoh, seorang di Surabaya yang menelepon ke Belanda, harus melalui stasiun Jatiluhur (jalur nasional) sebelum akhirnya dihubungkan dengan Belanda.
Sebagai Informasi tambahan, sejak 1881, sebenarnya di bawah permukaan laut Indonesia telah dibangun SKKL (Sistem Komunikasi Kabel Laut), yang menjadi sarana Pemerintah Hindia Belanda berkomunikasi saat masih menyerang Kesultanan Aceh untuk memberitahukan perkembangan penyerangan dan meminta bantuan kepada Batavia. Sejak tahun 1966, proyek SKKL dihentikan, dan diganti dengan SKSD (Sistem Komunikasi Satelit Domestik) yang menjadikan Satelit sebagai tulang punggung infrastruktur Telekomunikasi di Indonesia dan mulai dioperasikan tahun 1975. Kebijakan ini diambil oleh Pemerintah dengan menjadikan Proyek SKSD menjadi Proyek Nasional dan mencatatkan Indonesia sebagai nagara kedua di dunia setelah Kanada yang memakai Satelit sebagai sarana telekomunikasinya.
Tahun 1976, satelit Palapa 1 diluncurkan dari Florida. Dan mulai saat ini, telekomunikasi nasional dan internasional di Indonesia masuk ke level yang lebih baik dengan ditunjang oleh jaringan modern gelombang mikro, kabel bawah laut, dan kabel serat optik. Tahun ini juga Indonesia memenuhi syarat Interkonetivitas seperti yang diharapkan dalam CCIR dan CCITT (badan internasional yang menetapkan standar untuk Radio, telepon dan telegraf).
Saat itu Indonesia mempunyai perusahaan telekomunikasi bonafit di Dunia yaitu Indosat dengan stasiun bumi di Jatiluhur yang menyelenggarakan telekomunikasi internasional, dan Perumtel dengan satelit Palapanya yang menyelenggarakan telekomunikasi nasional dan regional. Indonesia menjadi lahan subur bagi perkembangan telekomunikasi karena luas wilayahnya, pasar yang menguntungkan, serta keadaan keuangan negara Indonesia di pertengahan dasawarsa 1970an yang tengah surplus dikarenakan keuntungan dari sektor Migas.
Para ilmuwan telekomunikasi indonesia, pada awal dasawarsa 1980an, melihat perkembangan telekomunikasi ini menjadi sebuah bisnis yang bagus dan akan sangat merugikan Pemerintah jika bidang ini masih dibagi hasil dengan pihak asing, maka munculah ide untuk mengakuisisi Indosat dari kepemilikan asing dengan menjadikan perusahaan itu sebagai BUMN.
Maka, bermodal Kepres Nomor 52 tahun 1980, para pejabat telekomunikasi itu menjajaki kembali perjanjian dengan ITT tentang kepemilikan Indosat. Dengan alasan perjanjian itu tidak sesuai lagi dengan keadaan pembangunan yang sedang terjadi di Indonesia, pemerintah Indonesia secara resmi berniat untuk membeli Indosat dan menjadikannya BUMN. Dengan serangkaian perundingan yang alot yang juga melibatkan pemerintah Amerika Serikat, maka disetujui pembelian 100 % saham Indosat oleh Pemerintah, dan Indosat resmi menjadi BUMN dengan harga US$ 43, 6 juta dengan kurs Rupiah terhadap dolar saat itu sebesar Rp 625.
George Hunter yang saat itu menjabat sebagai Managing Director Indosat mengatakan bahwa:
”Keputusan Pemerintah Republik Indonesia untuk membeli Indosat tidak lepas dari adanya orang-orang di Perumtel yang arogan dan tak ingin kehilangan revenue nya ke Indosat.”
Terlepas dari benar tidaknya anggapan itu, dalam dunia bisnis, terlebih di bidang telekomunikasi yang saat itu sedang berkembang pesat, akan sangat mudah terjadi silang pendapat dan kebijakan yang saling bersentuhan dengan kepentingan masing-masing stake holder yang bermain di dalamnya. Penjualan Indosat kepada SingTel serta kemudian kepada Qtel baru-baru ini juga tidak lepas dari strategi bisnis yang tidak lain bertujuan agar Perusahaan dapat bertahan dan dapat meraup untung sebanyak-banyaknya.
Kelahiran Perusahaan penyedia telekomunikasi di indonesia seperti PT. Excelcomindo Pratama, PT. Mobile-8 Telecom dan PT Telkomsel dan lain-lain juga ikut meramaikan persaingan dunia bisnis telekomunikasi di Indonesia yang sebenarnya telah ada sejak Indosat berdiri dan menjadi pesaing Telkom di bisnis telekomunikasi.
Walaupun strategi bisnis ini sekarang tengah beralih kepada strategi permainan tarif, namun penulis yakin, masing-masing perusahaan tetap berkomitmen untuk menyelenggarakan telekomunikasi Indonesia yang menjadikan kepuasan pelanggan sebagai prioritas utama dalam bisnisnya. Strategi bisnis yang dijalankan oleh sarjana telekomunikasi Indonesia pada rentang tahun 1960-1980 dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga, tidak hanya menjadi sebuah sejarah yang ditulis dalam buku, tapi juga menjadi motivasi perusahaan dalam menyediakan layanan telekomunikasi di Indonesia.
Pemerintah juga hendaknya ikut serta dalam mengatur perkembangan itu, tidak hanya menjadi pengguna tanpa memiliki andil yang besar dalam kemajuan teknologi dan bisnis telekomunikasi. Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), serta pihak-pihak lain dapat ikut serta dalam membenahi permasalahan yang ada dan dapat merumuskan solusi dari ancaman dan gangguan serta kemajuan teknologi yang akan terjadi masa akan datang.
Dengan informasi tentang sejarah pertelekomunikasi di Indonesia ini, penulis berharap seluruh masyarakat dapat lebih mengenal sarana yang dipakai terkait masalah perkembangan teknologi, regulasi dan permasalahan yang terjadi didalamnya. Juga diharapkan agar masyarakat juga ikut ambil bagian dalam perkembangan teknologi dan bisnis telekomunikasi dengan memanfaatkannya untuk mendirikan lapangan kerja baru bagi penduduk indonesia, terutama di Aceh, menciptakan teknologi-teknologi dan inovasi yang mendukung telekomunikasi dan membantu pemerintah dengan memberikan saran dan kritikan terhadap bidang bisnis yang menjanjikan ini.
Telekomunikasi di Indonesia menjadi sebuah pasar bisnis yang menggiurkan untuk saat ini dan masa akan datang, selain jumlah penduduknya yang banyak, pola hidup masyarakat indonesia juga masyarakat Aceh sangat cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan teknologi telekomunikasi adalah teknologi yang mempunyai kompabilitas tinggi.
Kita akan melihat sepuluh tahun kedepan, seluruh masyarakat di Aceh dan di Indonesia telah dapat tersambung dengan berhasilnya penyedia layanan telekomunikasi untuk menjalankan “sumpah palapa” yang mempunyai cita-cita untuk menyatukan nusantara walaupun dengan filosofi berbeda untuk jaman modern saat ini
Terakhir penulis mengambil kalimat dari Sukarno Abdulrahman yang dapat kita jadikan acuan dalam berbisnis teknologi telekomunikasi:
“Dalam telekomunikasi, yang penting bukanlah standarisasi, melainkan kompabilitas”
__________________
PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM DUNIA BISNIS
Jun 15, '08 2:06 AM
for everyone
Perkembangan teknologi demikian pesatnya saat ini, awam menyebutnya sebagai era HiTech sering pula masyarakat menyebutnya NewTech, begitupun dengan Information & Communication Technology (ICT) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berkembang dengan cepatnya, kadang kita belum mengetahui sistem yang baru, sudah muncul lagi sistem yang lebih baru. Tentunya sebagai konsekuensi logis dari era globalisasi dan liberalisasi yang dipicu dan dipengaruhi oleh perubahan teknologi yang kontinyu dan sangat cepat tersebut, maka dunia bisnis dihadapkan pada suatu persaingan yang sangat tajam.

Kita coba perhatikan fenomena sektor bisnis yang berada dikota kota besar di Indonesia dan para aktornya yang juga mengenal teknologi. Fakta membuktikan secara umum yang terjadi, bahwa teknologi belum bisa menjadi andalan dalam meningkatkan taraf perbaikan usaha/bisnis, dimana hal ini terjadi di berbagai sektor usaha atau bisnis yang ada. Teknologi di kalangan bisnis masih sebatas berfungsi sekedar pelengkap kerja dan bantuan komunikasi ataupun informasi.

Berbagai pendapat dan pandangan, bahwa dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi yang murah dan tersedia dimana mana akan menurunkan biaya transaksi dalam hubungan pasar, maka dari itu berkurang pulalah dorongan untuk mengembangkan susunan kepemimpinan yang hierarkis. Dengan perkembangan internet misalnya, tidak hanya sebagai teknologi komunikasi baru, melainkan juga sebagai pelopor bentuk organisasi yang sama sekali baru dan tidak hierarki, yang tentunya sesuai dengan tuntutan perekonomian saat ini yang begitu kompleks dan padat informasi.

Boleh jadi pendapat tersebut diatas cocok dari sisi kesuksesan penerapan teknologi modern, namun pastinya di negara negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dlsb, yang notabene transformasi teknologinya benar benar sudah masuk ke sendi sendi bisnis masyarakat, bahkan sampai ke para petani desa. Tentu lain hal dengan di Indonesia, fakta obyektif di lapangan bahwa masyarakat kita memang baru mengenal teknologi sebagai perangkat yang layak untuk di konsumsi, bukan sebagai infrastruktur dan pilar utama yang dijadikan kebutuhan dalam kelangsungan bisnis.

KONVENSIONAL TANPA TEKNOLOGI

Nuansa konvensional ini bisa dirasakan dan dibuktikan dari fakta obyektif di lapangan bahwa orang Indonesia bisa menjalankan bisnisnya tanpa teknologi, kalaupun bisa beli teknologi masih sebatas untuk pelengkap kerja saja, bahkan tak jarang pula hanya untuk gagah gagahan (gaya) dan asesoris belaka, kita belum bisa menjiwai benar bahwa teknologi adalah kebutuhan dan lahan utama untuk setiap business project.

Kita ketahui bersama bahwa dunia bisnis nasional saat ini adalah dunia bisnis konvensional dan tradisional, yang nampaknya baru akan mulai masuk ke wilayah adaptasi dengan kemutakhiran teknologi. Adaptasi new technology bagi masyarakat membutuhkan prinsip, penjiwaan dan pemahaman yang cerdas, tanggap serta cepat sebagaimana kecepatan perubahan dan perkembangan teknologi itu sendiri. Tanpa prinsip seperti itu, masyarakat hanya akan menjadi konsumen sejati.

Entah kapan masyarakat atau mereka para konsumen itu akan benar benar menikmati new technology untuk sebuah perkembangan dari usaha / bisnis. Atau justru hanya akan terus menerus dan sekedar menikmati sebagai bagian gaya hidup belaka?. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa kalangan menengah kita suka mengkonsumsi new technology, agar tidak dianggap gaptek, bahkan para eksekutif yang sudah memakai perangkat canggih itu pun tidak sepenuhnya mampu menggunakan fasilitas yang mereka punyai.

Ketika kita mencoba menelisik lebih jauh lagi, suatu kondisi yang sangat memperihatin kan juga terjadi pada perusahaan perusahaan besar di negeri ini, dimana mereka mengkonsumsi new technologi dengan perangkat canggihnya, namun sama sekali tidak bermanfaat untuk meningkatkan revenue atau pendapatan. Hal ini pula rupanya sebagai penyebab terjadinya banyak kasus yang menunjukkan bahwa belanja teknologi pada perusahaan perusahaan tersebut justru menjadi beban.

Kenyataan lain yang nampaknya memperkuat hal ini ketika kita menyaksikan berbagai instansi pemerintah, BUMN, BUMD, dll termasuk pemerintah daerah yang gemar belanja teknologi, terutama Komputer dan Internet. Justifikasi dan target penerapan teknologinya memang jelas, yaitu untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat, namun fakta membuktikan kinerja pemerintahan dari hari ke hari tidak meningkat.

Namun dengan jujur dan bangga harus kita akui bahwa ada satu dua daerah sangat berprestasi dalam kinerja dan pelayanannya kepada masyarakat. Dan itupun bukan karena penerapan new technology yang optimal, melainkan lebih pada kebijakan dan kebajikan kepemimpinan yang diterapkan kepala daerah. New Technology kemudian hanya menjadi barang konsumsi yang setelah puas dibeli lalu dimanfaatkan sesuka mereka, perkara kinerja tidak meningkat, itu menjadi urusan di luar teknologi.
.
PEMANFATAN TEKNOLOGI YANG REALISTIS

Dari sekian ratus juta masyarakat Indonesia termasuk didalamnya kalangan pelaku bisnis, yang sudah mengenal, menggunakan serta menguasai new technology, persentasenya masih cukup kecil. Boleh jadi hanya 10% saja, mungkin paling banter seputaran 10% sampai dengan 15%. Kita bisa melihat contoh yang realistis dalam masyarakat dan sektor pertanian Indonesia, sudah sampai sejauh mana sentuhan teknologi didalamnya.

Di setiap desa dan perkampungan, kegiatan ekonomi tani sudah berlangsung sejak zaman baheula. Tapi wajah pertanian tanpa sandingan teknologi tepat guna niscaya hanyalah fenomena keterpurukan dan kemiskinan yang kita saksikan, itulah sektor riil Indonesia, termasuk sektor maritim dan sektor sektor lainnya, yang konon para intelektual dan pemangku kebijakannya sudah mengenal teknologi. Itu semua masih dalam impian saja.

Untuk menjadikan teknologi bukan sekedar alat, atau bahkan memperalat kehidupan manusia, seyogyanya kita harus menyadari hubungan antara manusia dan teknologi itu sendiri. Para ahli teknologi meyakini bahwa teknologi tidak bisa dilihat sebagai entitas yang terpisah dari realitas hidup manusia. Teknologi bisa ada dalam tubuh manusia (teknologi pangan, teknologi kedokteran dll), teknologi bisa berada di lingkungan kita (telepon, faksimil, komputer, satelit dll), bahkan teknologi bisa menjadi ruangan/tempat yang nyaman dan sejuk (ruangan ber-AC), inilah relasi mutual sebagai realitas yang ada.

Suatu kenyataan yang juga harus kita lihat secara jeli, bahwa sains, teknologi dan kultur sudah bercampur aduk dalam kesatuan entitas, dan berdasarkan hal tersebut kemudian kondisi obyektif ini merekomendasikan pelaku bisnis di era teknologi modern ini harus mampu menangkap esensi hubungan. Tanpa kemampuan dan kejernihan melihat realitas ini, niscaya perkembangan bisnis baik gerak perusahaan maupun gerak kepemimpinan dan inisiatif tidak akan mencapai sasaran yang diharapkan, paling hanya akan berjalan tanpa arah tujuan yang jelas.

Maka dalam konteks inilah pentingnya kita bicara realistis dan rasional dalam berbisnis di era globalisasi, liberalisasi dan teknologi saat ini. Yang terpenting, bahwa pencapaian bisnis tidak sekedar butuh pemahaman hitungan dagang secara konvensional semata, melainkan harus juga menghitung target pembukaan/penetrasi pasar baru di hutan belantara era hiperkonsumerisme ini. Kemudian teknologi diterapkan bukan hanya untuk komunikasi dan informasi belaka, melainkan sebagai main infrastructure untuk mencari peluang pasar baru (new market).

Yang tidak kalah pentingnya, bahwa belanja teknologi mestinya harus menyadari kemampuan penerapan, optimalisasi dan target target rasional. Kecenderungan belanja teknologi sekedar untuk komunikasi sesama pegawai cukuplah dengan perangkat seluler sederhana dan murah. Selanjutnya yang perlu dipikirkan adalah mempersiapkan marketing yang tanggap terhadap situasi pasar yang hendak dicapai, bukan sekedar marketing biasa, melainkan mereka yang benar benar terdidik dalam memanfaatkan teknologi dan faham perkembangan media massa, baik cetak, televisi maupun online.

Satu hal lagi yang perlu menjadi perhatian kita, bahwa teknologi, terutama internet dan telepon saat ini sudah menjadi bagian dari komunikasi global. Salah satu kelemahan para pelaku bisnis dan perusahaan-perusahaan di negeri ini adalah tidak mau berupaya untuk melebarkan sayap, membuka pasar, baik ekspor-impor maupun pelayanan jasa ke negara-negara tetangga (regional) dan ke manca negara (international) secara lebih luas lagi.

Sejak bergulirnya era kompetisi formal dunia secara terbuka di berbagai sektor bisnis dan industri, melalui sistem globalisasi dan liberalisasi beberapa tahun yang lalu, banyak pasar potensial ketika kita tidak sekedar bergerak dalam lingkup regional maupun domestik (jago kandang), pasar begitu luas dan terbuka lebar. Teknologi sangat mampu dan memungkinkan menyediakan hal itu secara murah. Kenapa wawasan dan pikiran kita masih cupet? Kenapa mental kita masih regional, bahkan domestik?
12-Mei-2008
(Harlan - Jogya).
Prev: FLEXI JUMBO BONUS
Next: “ PERGESERAN PARADIGMA KEPEMIMPINAN “



Pemanfaatan Pengelolaan Informasi dengan Teknologi Informasi
21-09-2005 11:05:37
Perkembangan teknologi informasi dalam dunia usaha mengalami perkembangan pesat. Meningkatnya kebutuhan akan informasi dalam setiap aspek kehidupan manusia di tambah lagi dengan era persaingan pasar bebas semakin memicu perkembangannya. Globalisasi dunia telah membuat jaringan bisnis semakin meluas. Domain konsumen dari sebuah perusahaan tidak lagi hanya berasal dari satu region melainkan dari seluruh dunia. Hal utama yang perlu diberikan perusahaan kepada setiap pelanggannya dalam menghadapi globalisasi dunia bisnis adalah kemudahan untuk mendapatkan informasi tanpa harus terhambat oleh masalah waktu dan jarak. Teknologi Informasi dapat menyelesaikan masalah tersebut, oleh karena itu kita mengenal sebutan teknologi tanpa batas untuk Teknologi Informasi.
Persaingan bisnis yang semakin komplek memacu setiap perusahaan untuk dapat mengembangkan strategi pemasaran yang efektif dan menciptakan inovasi-inovasi produk baru yang sesuai dengan keinginan pasar. Sistem pemasaran manual dan konvensional dirasakan sudah kurang efektif lagi untuk dapat memperluas target pasar karena selain adanya keterbatasan dalam ruang dan waktu, pun membutuhkan biaya yang tinggi dengan cakupan penetrasi pasar yang terbatas secara teritorial. Efisiensi waktu dan biaya yang ditawarkan oleh Teknologi Informasi, membuat para pengusaha merasa wajib untuk menerapkannya dalam proses manajemen di perusahaan. Bagi mereka yang selalu fokus terhadap kebutuhan pelanggan, tidak akan berpikir dua kali untuk menerapkan Teknologi Informasi dalam proses kerjanya.
Globalisasi dunia bisnis menuntut perusahaan untuk dapat mengelola informasi dengan baik, sehingga kebutuhan informasi masingñmasing pihak yang berkepentingan (bukan hanya konsumen) dapat terpenuhi dengan cepat dan tepat. Teknologi Informasi dapat mengotomatisasi proses pengelolaan informasi dari mulai memasukkan informasi, menyimpan, dan memperbaruinya setiap saat sehingga setiap orang bisa mendapatkan informasi terbaru dan melakukan analisis dengan mudah. Oleh karena itu proses penyampaian pesan, informasi, maupun pengetahuan dapat lebih cepat, mudah, dan dijamin up to date.
Kehadiran teknologi internet menawarkan kemudahan bagi perusahaan dalam mengembangkan pasar dan memperkenalkan produk kepada masyarakat. Teknologi lnternet menciptakan dunia maya tanpa batas territorial, ruang, dan waktu. Kejelian perusahaan untuk memanfaatkan dunia maya sebagai sistem pemasaran modern mendapat respon positif dari masyarakat terlihat dari perkembangan pengguna internet yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Keberhasilan dalam memenangkan persaingan di pasar tergantung dari strategi pemasaran, informasi yang diberikan, dan sosialisasi kepada masyarakat.





















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar