Sabtu, 01 Mei 2010

EKONOMI, KELEMBAGAAN DAN PEMBANGUNAN : SEBUAH PRESFEKTIF DUNIA

BAB I
EKONOMI, KELEMBAGAAN DAN PEMBANGUNAN : SEBUAH PRESFEKTIF DUNIA
1.1 Studi-Studi ekonomi dan Pembangunan
1. Bentuk keadaan Ekonomi Pembangunan
Ekonomi pembangunan berhubungan dengan ekonomi dan proses politiok yang perlu untuk melakukan transformasi struktural dan institusional yang cepat dengan seluruh kehidupan masyarakat, yang efisien akan membawa hasil kemajuan ekonomi bagi sebagian besar lapisan masyarakat atau populasinya.
2. Mengapa kita mempelajari ekonomi pembangunan?
Untuk berfikir secara sistematik mengenai pendapat-pendapat dan problema-problema ekonomi dan merumuskan pertimbangan-peretimbangan dan kesimpulan-kesimpulan atas prinsip-prinsip dasar analitik aplikasi yang relevan dan informasi statistik yang dapat dipfercaya.
3. Pentingnya Peranan Nilai Dalam ekonomi Pembangunanj
Nilai merupakan suatu komponen integral daeri analisa ekonomi dan kebijakan ekonomi
4 Keadaan/ Sifat Teori Ekonomi Barat
Mengatur konseptial fakta-fakta interdevcenden kehidupan ekonomi, termasuk produksi,konsumsi, penghasilan, harga, lapangan kerja,. Inpor, tabungan dan investasi.
1.2 Teori Tradisional yang Terbatas Relevensinya
Profesor Paul Strereton dari Oxford University, ia mengungkapkan bahwa seluruh perlengkapan ekonomi Neo-klasik yang ada sekarang nampaknya sudah csemakin kuno mendadak. Kerangka kerja konseptual dan asumsi-asumsi yang menyangkut tingkah laku masing-masing bersatu dalam daerah yang luas analisa ekonomi neo-klasik tradisional, ada tiga faktor ideal yaitu : keaulatan konsumen, perxsaingan yang sempurna dan peningkatan keuntungan.
1.3 Ekonomi Sebagai Sistem Sosial : Perlu Meninggalkan Sistem Ekonomi Lama/Sederhana
Yang mengarahkan penjelasan-penjelasan mengenai ekonomio neo-klasik tradisional yang sebagian besar mempersoalkan bentuk/keadaannya, jangkauan dan pembatasan-pembatasannya alam menghadapi problema-problema yang komplek dan multi dimensional dalam pembangunan dunia ketiga.
1.4 Sistem-Siatem Sosial Dunia Ke tiga Merupakan Bagian Dari Sistem Sosial Internasional Interdevenden
Aspek yang penting dari hubungan adalah fenomena domininansi dan devendensil/ketergantungan yang banyak dapat diantara negara-negara maju an kurang maju.





BAB 11
BERBAGAI STRUKTUR DAN KARAKTERISTIK UMUM NEGARA-NEGARA YANG SEDANG BERKEMBANG
2.1 sebuah Tinjauan Berbagai Struktur Ekonomi dunia Ke Tiga
Struktural negara-negara yang sedang berkembang ada tujuh komponen besar : Terutama perbedaan-perbedaan di negara Afrika, Asia, Amerika Latin.
1. ukuran dan tingkat penghasilan
Ukuran fisik dari suatu negara, populasinya, tingkat penghasilan nasional perkapita, adalah faktor penentu yang penting dari potensi ekonominya dan faktor penting yang membedakan negara- negara dunia ketiga dengan negara lainnya.
Latar Belakang Historis
Pada umumnya, bangsa Afrika dan Asia pernah menjadi bangsa jajahan Eropah Barat, karena itu negara yang ada di Afrika baru-baru ini memperoleh kemerdekaan, agaknya lebih banyak berurusan dengan konsilidasi dan perubahan ekonomi nasional mereka sendiri dan struktur politik.
2. Persediaar Sumber-Sumber Fisik Dan Daya Manusia.
Keadaan dan watak sumber daya manusia dari suatu negara adalah faktor penentu yang amat penting dalam struktur ekonominya dan masalah ini sudah tcentu akan berbeda dari suatu kawasan dengan lainnya.
3. Kepentingan Yang Relatif Terhadap Sektor Pemerintahan Dan Swasta.
Dalam keadaan perekonomian yang yang di dominasi oleh sektor pemerintah, proyek-proyek, investasi pemerintah yang langsung dan program-program besar pembangunan desa, biasanya diutamakan dan didahulukan sedangkan perekonominan yang di dominasi pada sektor swasta kebijaksanaan-kebijaklsanan pemerintah dimaksudkan untuk menghimbau atau mengajak para pcengusaha swasta untuk lebih banyak mempergunakan tenaga kerja melalui tunjanganm-tunjangan atau bantuan-bantuan pajak khusus.
5 Struktur Perindustrian
Struktur dan tingnkat interdependensi antara sektor-sektor perindustrian yang pertama (pertanian,kehutanan,dan perikanan), yang kedua (perindusxtrian secara umum) yang ketiga (perdagangan, keuangan,pengangkutan dan jasa)
6 Ketergantuingan Terhadap Kekuatan Luar : Ekonomi,Politik ,dan kultural
Dalam beberapa hal ketergantungan ini menyentuh hampir setiap sendi kehidupan, negara-negara kecil pada umumnya sangant tergantung pada perdagangan luar negri mereka enggan negara-negara maju hampir semuanya tergantung pada importasi dan sering kali teknologi untuk produksi yang kurang sesuai, kenyataan ini sendiri menelipkan pengaruh yan luar biasa pada pertumbuhan karakterdalam negara-0negara yang tcergantung ini.
7. Struktur Politik, Kekuasaan dan kelom[ppok-kelompok Interest
Bahwa pembangunan ekonomi dan sosial acapkali tidak mungkin dilaksanakan tanpa melalui perubahan-perubahan yang bcerkaitan dengan institusi lembaga sosial,politik dan ekonomi suatu negara.
2.2 Karateristik-Karakteristik Umum Negara-Negara berkembang
1. Tingkat Kehidupan Yang Rendah
Tingakat kcehidupan yang rendah ini dimenifestasikan secara kuantitatif dan kualitataif dalam bentuk pendapatan yang rendah
2. Tingkat Produktifitas Yang Rendah
Untuk meningkatkan produktifitas menurut argument ini, tabungan-tabungnan negri dan keuangan dari luar negri haruslah dimobilisasi untuk mempercepat investasi baru dalam barang-barang mpoal fisik dan juga untuk menyediakan stok/modal tenaga manusia.
3 Tingkat Pertumbuhan Populasi dan Beban Tangungan Yang Tinggi
4 Tingginya Perkembangan Pengangguran dan Pengangguran Semu
5 Ketergantungan Terhadap Produksi Pertanian dan Produk Ekspor
A Pertanian skala kecil
B Ketergantungan pada ekspor
6 Dominansi,Dependensidan,valnurability dalam hubungan-hubungan internasional
BAB 3
ARTI PEMBANGUNAN
Dalam pengertian yang paling mendasar pembangunan itu harus mencakup masalah-masalah materi dan finansial dalam kehidupan orang,. Karena itu pembangunan harus diselidiki sebagai proses multidimensional yang melibatkan reorganisasi dari semua sistem ekonomi dan sosial
3.1 Dua Macam Pendekatan Yang Penting Mengenai Studi Pembangunan
1. Model Tingkat Jenjang Linear
a. Tingkat jenjang pertumbuhan menurut Rostow :
Tingkat jenjang-jenjang ini bukan hanya diskriftif dan bukan hanya satu cara mnenjeneralisasi penelitian suatu factual mengenai hubungan pembangunan masyarakat modern, tingkat jenjang ini mempunyai logika yang mendalam dan kesinambungan yang pada akhirnya tingkat/jenjang-jenjang ini menyangkut kedua-duanya, jika masih terbagi-bagi yaiyu teori mengenai sejarah modern secara keseluruhan.
2. Model-model Strukturalis Internasional
Ada dua jalur pemikiran dalam mocdel strukturalis internasional ini
a. Model Dependensi Neo-klonial
Yaitu pertumbuhan dari pemikiran Marxis ialah eksistensi dan memelihara keterbelakangan dunia ketiga terutama sekali terhadap evolusi histories mengenai sistem kapitalis internasional yang betul-betul tidak ama dalam hubungan negara-negara kaya dan miskin.
3.2 Dualisme an Konsep Masyarakat Ganda
Konsep cdualisme ini meliputi empat komponen yaitu :
A Perbedaan tata kondisi yang sebagian merasa supersior/lebih dari segala hal.
B koeksisitensi adalah suatu yang kronis dan bukan hanya semata-mata transisi.
C Tinngkat supersuoritas/ inferoritas tidak hanya gagal m,enunjukkan berkurangnya bahkan terdapat tendensi meningkat.
D interelasi antara elemen-elemen superior dan inferior sedemikian rupa yang eksistensi elemen superior hanya sedikit sekali bahkan tidak menyangkut elemen inferior.
1. Dualisme Internasional
Empat komponen dualisme ini memberikan deskripsi yang mendekati sempurna mengenai situasi sekarang didalam sisitem ekonomi internasional,pertama : terdapat perbedaan-perbedan yang besar alam pendapatan perkapita dan koeksistensi tingkat kehidupan yang ada diantara negara-negara yang sangat berbeda suku, benua, dan iklim. Kedua ; perbedaan-perbedaan ini jelas bukan masalah yang baru, tetapi masalah yang sudah kronis. Ketiga ; perbedaan-perbedaan ini menunjukkan tanda-tanda yang lebih banyak meningkat dari pada menurun atau berkurang , keempat ; interelasi antara negara yang kaya dan miskin dalam ekonomi internasional.
2 Dualisme domestik (Dalam negri)
Pertama standar kehidupan sangat berbeda, kedua :ko-eksistensi daerah kecil yang modern ditengah-tengnah masyarakat tradisional, ketiga : celah diantara orang kaya dan miskin, terakhir efek-efek yang luas antara meningkatnya kekayaan dari daerahdaerah modern dan perbaikan taraf hidup alam masyarakat tradisional tidak begitu jelas dalam semua hampir negara yang kurang maju.
3.3 Apa yang kita maksudkan dengan pembangunan
1. ukuran- ukuran ekonomi tradisional
2. pandangan ekonomi yang baru tentang pembangunan
3. keluar dari kriteria ekonomi yang sempit
4. ada tiga nilai-nilai hakiki dalam pembangunan
a kebutuhan untuk bisa hidup
b Harga diri sebagai manusia
c bebas dari perbudakan
5 Tiga sasaran pembangunan
- meningkatkan persediaan dan memperluas pembagian/ pemerataan baha-bahan pokok yang dibutuhkan untuk bisa hidup
- mengangnkat taraf hidup, termasuk menambah dan mempertinggi penghasilan, penedian lapangan kerja yang memadai
- memperluas jangkauan pilihan ekonomian sosial bagi semua individual an nasional
3.4 Keterbelakangan dan Pembangunan ; Suatu ikhtisar skematis multidimensional
Mengambarkan usaha secara skematis untuk memperlihatkan dan mengikhtisatrkan beberapa aspek ekonomi dan non ekonomi yang penting .





BAB 4
PERTUMBUHAN HISTORIS DAN PEMBANGUNAN SEKARANG PELAJARAN-PELAJARAN DAN PERDEBATAN-PERDEBATAN
4.1 Pertumbuhan Ekonomi : Beberapa Konsep Dasar Dan Ilustrasi
Faktor-faktor atau komponen-komponen pertumbuhan ekonomi yang pentng dalam masyarakat mana saja adalah :
1. Akumulasi Modal, termasuk semua investasi baru dalam bentuk tanah, peralatan fisik dan sumber daya manusia
2. Perkembangan populasi, dan karenanya terjadi pertumbuhan dalam angkatan kerja walaupun terlambat.
3. Kemajuan Teknologi, adalah hasil dari cara-cara baru yang telah diperbaiki dalam melakukan pekerjan-pekerjaan tradisional
4.2 Catatan sejarah : ada enam karakteristik pertumbuhan ekonomi modern menurut kuznets
Profesor Simon Kuznets, orang yang menerima hadiah novel dalam ilmu ekonomi tahun 1971, karena kepeloporannya mengukur dan menganalisa sejarah pertumbuhan pendapatan nasional dalam Negara-negara yang sudah maju, telah menentukan pertumbuhan ekonomi suatu Negara sebagai kemampuan dalam jangka panjang untuk mensuplai berbagai benda ekonomi yang terus meningkat kepada rakyatnya, pertumbuhan kemampuan ini atas dasar kemajuan teknologi , institusional dfan penyesuaian ideology yang diperlukannya.
Keenam karakteristik tersebut adalah sebagai berikut :
1. tingginya tingkat pertumbuhan output / luaran perkapita dan populasi
2. Tinginya tingkat perumbuhan produktivitas
Kemajuan teknologi termasuk meningkatkan fisik dan sumber-sumber daya manusia yang ada menyebabkab besarnya peningkatan dalam PNK perkapita.
3. Tinginya transformasi Struktural Ekonomi.
4. Tingginya tingat Transformasi sosial,politik dan ideology
Uraian- uraian mengenai karakteristik sebagai berikut :
A Rasionalitas substitusi metode-metode modern, cara berfikir bertindak, berproduksi, disribusi dan memberikan konsumsi bagi praktek-praktek kuno dan tradisional.
B Perencanaan yaitu : mencari system pelaksanan kebijaksanaan yang terkoordinasi dan tradisional
C Persaman social dan ekonomi,yaitu peningkatan persamaan dalam status dalam kesempatan- kesempatan memperoleh kekayaan,penghasilandan tingkat kehidupan
D Perbaikan sikap-sikap dan lembaga-lembaga
5. Jangkauan yang Dicapai Ekonomi Internasional
6 Luasnya perumbuhan ekonomi Internasional Masih Terbatas
Pertumbuhan ekonomi yang cepat memungkinkan penelitian dasar-dasar ilmiah yang pada gilirannya membawa penemuan-penemuan dan pembaharuan-pembaharuan teknologi yang mendorong pertumbuhan ekonomi selanjutnya.
4.3 Terbatasnya Nilai Pengalaman sejarah Peretumbuhan : kondisi-kondisi sebelumnya yang berbeda-beda.
Ada delapan perbedaan yang besar dalam kondisi-kondisi terdahulu perbedaan yangbanyak memerlukan analisa yang perlu di ubah mengenai prospek-prospek pertumbuhan dan kebutuhan-kebutuhan pembangunan ekonomi modern :
1. Persediaan sumber daya baik fisik maupun tenaga manusia
2. Pendapatan perkapita dan tingkat PNK dalam hubungannya dengan Negara lain di dunia.
3. Perbedaan-perbedan iklim
4. Jumlah populasi, pemerataan dan pertumbuhan
5. Peranan sejarah Migrasi internasional
6. Pertumbuhan stimulus perdagangan internasional
7. Penelitian dasar ilmu dan teknologi serta kemampuan penngembangannya
8. Lembaga-lembaga social dan politik yang stabil dan pleksibel
BAB 5
PERTUMBUHAN KEMISKINAN DAN PEMERATAAN PENDAPATAN
5.1 Beberapa konsep Dasar : Ukuran dan Fungsional Pemerataan Pendapatan
1. Ukuran Pemeratan
Pemeratan Penghasilan pribadi atau ukuran merupakan yang paling umum dipergunakan oleh para ahli ekonomi, ukuran ini hanya berkenan dengan masing-masing pribadi dan jumlah penghasilan yang mereka terima, bagaimana cara mendapatkan penghasilan tersebut tidak dipertimbangkan
2. Kurpa Lorenz
Kurva Lorenz memperlihatkan hubungan kuantitatf yang actual (yang sebenarnya) antara persentase penerima penghasilan dan persentase jumlah penghasilan yang mereka terima
3 Koefisien Gini dan Ukuran Bersama Ketimpangan
Koefisien Gini adalah persamaan ukuran ketimpangan dan bias berbeda-beda (bervariasi) dari nol (persamaan yang sempurna) sampai satu titik ketimpangan yang sempurna
4 Pemerataan fungsional
Ukuran pemerataan penghasilan kedua yang imum digunakan oleh para ahli ekonomi adalah fungsional atau pemeratan bagian factor yang berusaha menjelaskan pembagian dari jumlah pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing factor produksi
5.2 Sebuah Tinjauan terhadap Bukti : Ketimpangan dan Kemiskinan Absolut dalam Negara-negara dunia ketiga
1. Ketimpangan : Bervariasi antara masing-masing Negara
2. Kemiskinan Absolut : Luas dan Dalamnya
Baha tingginya penghasilan perkapita bukanlah jaminan tidak adanya kemiskinan absolute, karena pembagian penghasilan yang meluas sampai kepersentase populasi yangpaling rendah itu biasa sangat berbeda-beda dari satu Negara dengan Negara lainnya.
5.3 Karakteristik ekonomi Dari kelompok-kelompok miskin
Pengertian tentang keadan besarnya/ukurannya pemeratan penghasilan adalah sentral bagi semua analisis problem kemiskinan dalam Negara-negara yang berpenghasilan rendah
5.4 Pertumbuhan Ekonomi dan Luasnnya kemiskinan
Profesor Kuznets orang yang sangat dihargai atas kepeloporan analisisnya mengenai pola-pola pertumbuhan sejarah Negara-negara sekarang yang sudah maju telah mengemukakan bahwa dalam tingkat permulaan pertumbuhan ekonomi pemeratan penghasilanakan cendrung rusak/jelek, kemudian dalam tingkat selanjutnya akan menjadi lebih baik, ternyata dampak yang principal dari pertumbuhan ekonomi terhadap dalam pemeratan penghasilan, secara rata-rata adalah mengurangi kemiskinan yang absolute dan penghasilan yang relative membaik bagi si miskin
5.5 Menentukan Kembali Sasaran-sasaran pembangunan Peretumbuhan Dengan memperbaiki Pemeratan Penghasilan
Bahwa strategi pembangunan menghendaki tidak hanya mempersoalkan kepentingan yang menyangkut akrelasi pertumbuhan ekonomi saja, tetapi juga membahas masalh-masalah yang langsung menyangkut perbaikan materi standar kehidupan bagi mereka yang ergolongdalam segmen besar dari populasi dunia ke tiga yang sebagian besar telah dilalui oleh pertumbuhan ekonomi dalam dua decade yang lalu
5.6 Peranan analisis Ekonomi : Redistribusi Pertumbuhan
1 Pertumbuhan versus Pemeratan Penghasilan
A argument tradisional Pembagian factor, tabungan dan pertumbuhan ekonomi
Argument dasar ekonomi yang membenarkan ketimpangan –ketimpangan dalam penghasilan pribadi dan penghasilan bersama yang tinggi merupakan kondisi yang perlu untuk menabungyang akan memungkinkan penanaman modal dan menumbuhkan ekonomi melalui suatu mekanisme
B Argumen Balik
Ada empat alasan yang umum mengapa banyak para ahli ekonomi pembangunan sekarang percaya argument di atas adalah tidak benar dan mengapa persaman/ keadilan yang lebih merata dalam Negara-negara yang sedang berkembang sebenarnya bias menjadi kondisi pertumbuhan ekonomi yang ditopang dan dipelihara sendiri, pertama : secara umum didukung oleh kekayaandata dari pengalaman yang baru yang tlahdibuktikan, kedua : rendahnya penghasilan dan tingakat kehidupan yang tercermin dalam tingkat kesehatan, gizi, dan pendidikan yang sanagt buruk bias merendahkan produktivitas ekonomi mereka. Ketiga : Menyangkut tingakat penghasilan akan merangsang peningkatan permintan akan barang-barang kebutuhan pokk yang diproduksi dalam negri secara keseluruhan seperti makanan dan pakaian. Keempat : Pemeratan penghasilan yang lebih adil yang lebih dicapai melalui pengurangan kemiskianan masyarakat bias merangsang perluasan ekonomi secara sehat dngan memberikan intensif yang berupa benda maupun materi
2 Menggabungkan pertumbuhan Ekonomi dan Pemeratan
Apabila kita menganalisa determinan-determinan yang nyata mengenai pemeratan penghasilan yang sangat timpang, maka yang sangat timpang itu adalah pemeratan pemilikan kekayn/harta yang produktif seperti tanah danmodal dalam segmen-segmen yang berbeda dalam masyarakat dunia ketiga yang pada umumnya menyebabkan perbedaan penghasilan yang bcesar sekali antara sikaya dan simiskin
5.7 Luasnya pilihan kebijaksanaan : Beberapa pertimbangan pokok
1 Bidang-bidang intervensi
- Pemerataan fungsional hasil hal bagi tenaga kerja, tanah dan modal seperti yang telah ditentukan oleh harga-harga factor tingkat penggunannya dan pembagian yang konsekuen dari penghasilan nasional yang meluas sampai kepada pemilik-pemilik dari masing-masing factor tersebut
- Pemeratan ukuran, pemerataan penghasilan fungsional dari suatu ekonomi
- Memoderatkan (mengurangi) pemerataan ukuran pada golongan- golongan tingkat atas, melalui system perpajakan progresif terhadap pendapatan an kekayaan
- Meningkatkan pemeratan ukuran pada golongan-golongamn tingkat bawah, melalui pembelanjaan/ pengeluaran pemerintah dari hasil pajak
2 Pilihan-pilihan Kebijaksanaan
- Mengubah pemeratan penghasilan fungsional melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dirancang untuk menggantui harga factor relative
- Memperbaiki ukuran pemeratan melalui pemeratan pemilikan kekayaaan
- Mengubah(mengurangi) ukuran pemeratan pada golongan tingkat atas melalui system pajak pendapatan dan pajak yang progresif
- Memperbaiki (meningkatkan) ukuran pemerataan pada golongan tingkat bawah melalui transfer pembayaran-pembayaran langsung dan penyediaan/ pemberian barang-barang dan jasa untuk umum.

BAB 6
MASALAH POPULASI
6.1 Masalah dasar Pertumbuhan Populasi Dan Kualitas Kehidupan
Bagaimanakah situasi populasi dalam berbagai Negara dunia ketiga mengkontribusikan kepada atau mengumpat ari kesempatan-kesempatan mereka melaksanakan sasaran-sasaran pembangfunan, bukan hanya untuk generasi sekarang saja tetapi juga untuk generasi yang akan datang
6.2 Sebuah tinjauan mengenai Jumlah Pertumbuhan Populasi dulu, sekarang, dan yang akan datang
1 Pertumbuhan populasi dunia menurut sejarah
Bahwa pertumbuhan populasi sekarang ini terutama sekali adalah hasil dari transisi yang cepat dari era histories yang panjang ditandai dengan tinginya tingkat kelahiran dan kematian, kepada era tingkat kematian yang menurun seara tajam, sedangkan tingkat kelahiran terutama sekali di Negara dunia ketiga tidak terlalu banyak menurun dari ketingian tingkat historisnya
2 Struktur Populasi Dunia
A Daerah Geografis
Dari jumlah populasi dalam tahun 1977, lebih ari dua pertiga hidup dinegara-negara yang sedang berkembang dan kurang dari sepertiga dinegara-negara secara ekonomis sudah maju
B Gejala-gejala kelahiran dan Kematian
Peningkatan/penambahan biasa/alamiah hanya mengukur akses kelahiran atas kematian,atau dengan istilah yang lebih teknis, selisih antara tingkat kelahiran dan tingkat kematian
C Struktur Umum Dan BebanTanggungan
3 Momentum yang tersembunyi Pertumbuhan populasi
Ada dua alasan pokok mengenai momentum yang tersembunti ini
Pertama, tingginya tingkat kelahiran tidak bisa diubah secara substansial sedangkan yang kedua : alas an ini kurang jelas bagi momentum yang tersembunyi teantang pertumbuhan populasi yang berhubungan dengan struktur umur dari populasi di Negara-negara yang sedang berkembang.
6.3 Perdebatan Tentang Populasi Beberapa Perbedan Pendapat
1 Pertumbuhan Populasi bukanlah suatu problema yang riil
Tiga macam argument umum dari individual-individual terutama sekali dari Negara-negara dunia ketiga yang menyatakan ;
- Bahwa problemnya bukanlah pertumbuhan populasi, tetapi ada masalah lain
- Bahwa pertumbuhan populasi itu adalah masalah tiruan/buatan yang dengan sengaja diciptakan oleh lembaga-lembaga dan perwakilan-perwakilan Negara kaya yang dominant
- Bahwa bagi berbagai Negara dan kaasan yang sedang berkembang, pertumbuhan populasi itu malahan di kehendaki
2 Pertumbuhan Populasi suatu problema yang riil
- Melaksanakan keluarga berencana
Bahwa pembangunan ekonomi dan social adalah kondisi yang diperlukan untuk memungkinkan bias memperlambat atau menghentikan pertumbuhan populasi dengan rendahnya tinkat kelahiran dan kematian
- Hak-hak asasi manusia
- Pembangunan plus Program populasi
Berikut ini memberikan tambahan komponen yang esensial bagi pendapat menegnah atau consensus ini :
A Pertumbuhan populasi bukanlah merupakan penyebab utama dari rendahnay tingkat kehidupan, besarnya ketimpangan atau terbatasnya kebebasan memilih yang sudah menjadi cirri sebagian besar di Negara-negara dunia ketiga
B Problema, populasi bukanlah hanya sekedar persoalan jumlah, melainkan juga persoalan kualitas kehidupan manusia dan kelengkapan materilnya
C akan tetapi pertumbuhan populasi yang cepat memang menimbulkan problema-problema kerbelakangan yang hebat, dan menimbulkan prospek-prospek pembangunan yang lebih luas
D banyak problema-problema yang nyata mengenai populasi, timbul bukan karena dari jumlah keseluruhannya, tetapi daripenentuan-penentuannya .
6.4 Sasaran dan Tujuan : Terhadap Konsensus
Terlepas dari pendapat-pendapat yang timbul secara diametric merupakan argument-argumen yang saling bertentangan antara mereka yang setuju dan yang menentang pertumbuhan populasi timbul pula suatu gagasan yang umum suatu usul atau pendapat penengah yang bisa di sepakati oleh kedua pihak, ialah dengan pengecualian yang mungkn bagi mereka yang mengajukan versi-versi ekstrem, baik dari pihak rajawali ataupun pihak yang pronatalis

BAB 7
EKONOMI, POPULASI DAN PEMBANGUNAN
7.1 Teori transisi Demografis
Teori transisi demografis yang berusha menerangkan mengapa semua Negara sekarang yang sudah maju, sedikit atau banyak melalui tiga jenjang/tingkat yang sama dengan sejarah populasi modern.
7.2 Teori Maltus “Perangkap Populasi’
1 Model Dasar
Reverend Thomas Maltus telah mengetengahkan sebuah teori mengenai hubungan antara pertumbuhan populasi dan pembangunan ekonomi yang sampai sekarang masih berlaku, dalam tahun 1798, ia menulis Essay on he principle of population, dan mengambarkan konsep pengertian tentang kekurangannya atau menciutnya penghasilan, Maltus mengambarkan tendensi yang universal populasi dari suatu Negara, jika tidak dicegah dengan cara mengurangi atau berkurangnya persedian bahan makanan, maka populasi akan berkembang secara geometris
7.3 Teori ekonomi Mikro Mengenai Fertilitas
1 pertimbangan-pertimbangan umum
Dalam melakukan usaha ini, para ahli tersebut menggunakan teori neoklasik tradisional tentang kebiaaan-kebiasan rumah tanga atau konsumen sebagai modal dasar analitik meeka, dan menggunakan prinsip-prinsip ekonomi dan optimasi untuk menjelaskan keputusan-keputusan tentang jumlah keluarga.
Teori konvensional tentang kebiasaan/tingkah laku konsumen baha menganggap seorang individual dengan aneka ragam selera atau kesenangan dalam berbagai barang, dalam aplikasi teori ini dengan anlisis pertilitas, anak-anak dianggap sebagai barang konsumsi yang khususdengan demikian fertilitas menjadi respons ekonomi yang rasional terhadap permintaan konsumen (keluarga) untuk anak-anak relative trhadap barang- barang lain
3 Implikasi-implikasi bagipembangunan dan fertilitas
Efek kemajuan social dan ekonomi dalam rangak menurunkan fertilitas dinegara-negara yang sedang berkembang akan besar sekali dimana mayoritas populasi dan erutama sekali yang paling sedikit mendapat bagian keuntungannya
7.4 Beberapa Pendekatan Kebijaksanaan
Tiga bidang kebijaksnaan yang bisa mempunyai pengaruh penting baik langsung maupun tidak langsung terhadap poopulasi dunia yang sekarang dan yang akan dating :
- Kebijaksanaan-kebijaksanaan umum dan spesifik yang bisa dilakukan oleh pemerintah di Negara-negara yang sedang berkembang untuk mempengarihi, bahkan barangkali bisa mengendalikan pertumbuhan dan pemerataan populasi mereka
- Kebijaksanaan-kebijaksanaan umum dan spesifik
- Cara-cara yang spesifik yang bisa dilakukan oleh pemerintah Negara-negara maju beserta kantor-kantor perakilan internasional untuk membantu Negara-negar berkembang untuk mencapai tujuan-tujuan kebijaksanaan populasi mereka apapun bentuknya dalam waktu yang sinkat mungkin
Marilah kita coba membaha permasalahan secara satu persatu
1 apa yang bisa dilakukan oleh negar-negara yang sedang berkembang
Pada pokoknya pemerintah bisa berusaha dalam mengendalikan kelahiran melalui lima cara :
- mereka bisa berusaha menganjurkan orang-orang untuk mempunyai keluarga kecil melalui media komunikasidan proses pendidikan
- Melaksankan program-program keluarga berencana untuk kesehatan dan memberikan pelayanan-pelayanan kontraseptif guna mendorong kebiasaan/tingkah laku yang di inginkan
- Mereka dengansengaja memanipulasi insentif dan disentif ekonomi
- Mengatur kembali pemerataan populasi mereka dari daerah perkotaan yangberkembang terlalu cepat sebagi akibat dari urbanisasi masal migrasi interen dengan mengurangi ketidakseimbangan kesempatan-kesempatan ekonomi dan social yang terjadi didaerah perkotaan dibandingakn dengan daerah pedesaan
- Pemerintah bisa berusaha secara langsung memaka masyarakat agar memperkecil jumlah keluarga dengan kekuasaan legislasi Negara dan hukuman untuk alasan-alasan tertentu
2 Bagiman Negara-negara maju bisa membantu Negara-negara berkembang dalam program populasi mereka yang berbeda-beda
Yang pertama adalah seluruh bidang penelitian teknologi mengenai pengendalian fertilitas,tablet kontraseptif,alat-alat inern modern(IUD), prosedur sentralis sukarela dan lain-lain, penelitian seperti ini sudah dilakukan secara bertahun-tahun hamper semuanya dibiayai oleh organisasi donor internasional. Usaha-usaha berikutnya memperbaiki efektifitas teknologi kontraseptif ini sambil memperkeci resiko-resiko kesehatan yang perlu digalakkan terus.
Bidang kedua meliputi : bantuan keuangan oleh negar-negara kaya untuk keperluan program keluarga berencana, pendidikan umum, dan kegiatan-kegiatan penelitian kebijaksanaan populasi nasional di Negara-negara yang sedang berkembang
BAB 8
PENGANGGURAN BEBERAPA PERMASALAHAN DIMENSI DAN ANALISIS
Oleh karena itu problema kita pekerjaan negar-negara di dunia ketiga menyangkut berbagai bidang yang membuatnya agak unik dari segi histories dan banyak tergantung pada berbagai analisis ekonomi yang bebas dan luas, ada tiga alasan penting dalam masalah ini ;
- Pengangguran dan pengangguran semu yang tetap dan kronis dari angkatan kerja di Negara-negara yang sedang berkembang
- sebab-sebab yang menimbulkan problema pekerjan dinegara dunia ketiga jauh lebih kompleks dari pad apa yang terdapat di negar-negara maju
- apapun dimensi dan sebab-sebab pengngguran di negar-negara dunia ketiga keadaan manusia yang miskin dan hina seta taraf hidup yang sangat rendah sekali
8.1 dimensi-dimensi pengangguran di dunia ketiga : bukti dan konsep-konsep
1 Pekerjan dan pengangguran : Gejala-gejalanya dan proyeksi-proyeksinya
Sebagi problema yang cukup serius khususnya pertumbuhan pengangguran dan pengangguaran semu didaerah-daerah perkotaan terutama sekali telah memberikan lonceng tanda bahaya dan sebagi suatu sebab pertunbuhan masalah bagi hamper semua Negara di dunia ketiga
2 Pertumbuhan populasi didaerah perkotaan
Bahwa tidak ada pertumbuhan populasi yang akan lebih dramatis dari pada dikota-kota besar dalam negar-negar yang sedang berkembang
3 Angkatan kerja : keadaan sekarang dan perkiran yang akan datang
Jumlah orang-orang yang mencari pekerjan di Negara-negara sedang berkembang terutama sekali tergantung pada jumlah dan kompesisi umur populasinya. Proses yang berhubungan dengan gejala-gejala dalam suatu pertumbuhan populasi terhadap pertumbuhan penduduk asli. Ada dua hal yang menarik perhatian khusus :
Pertama : betapapun besarnya pertumbuhan tingkat populasi, komponen fortalitas dan molaritas mempunyai arti sendiri, sedangkan yan kedua : dampak menurunnya fertalitas terhadap jumlah angkatan kerja dan struktur umum akan trasa dalam waktu yang agak lama walupun penurunannya cepat.
4 Tenaga kerja yang tidak dapat bekerja : beberapa definisi dan Distingsi/ketentuan
Oleh karena itu Edwerd membedakan antara lima bentuk pengangguran sebagi berikut :
- pengangguran terbuka,yaitu mereka yang tidakl mau bekerja
- Pengangguran semu, yaitu mereka yangbekerja kurang dari apa yang semestinya mereka kerjakan
- Kelihatannya aktif, tetapi tidak progretif
- Tenaga yang merugikan, adalah mereka yang mungkin bekerja purna aktu, tetapi intensitas kerjanya itu sangat merugikan karena kekurangan gizi atau kurangnya pengobatan propentif
- Tenaga-tenaga yang tidak produktif
8.2 Model-model ekonomi mengenai Determinasi Pekerjaan
1 Model Pasar Bebas Kompetitif Tradisional
- Upah yang pleksibel dan pekerjaan penuh
- Pembatasan-pembatasan model kompetitif bagi Negara-negara berkembang
2 Pertumbuhan Out Put / luaran dan pekerjaan : Konflik atau Kongruen (berbeda atau sama)
- Model/ teori pertumbuhan dan tingkat pekerjaan : Argumen yang konflik/ berbeda
- Pertumbuhan dan pekerjaan : argumen yang sama
Pada umnya kenaikan dalam produktifitas enaga kerja memanga di kehendaki, akan tetapi yang dikehendaki aalah peningkatan jumlah factor produktifitas
3 Teknologi yang sesuai dan Generasipekerjaan : Model inensif harga
- memilih teknik-teknik
menurut teori ini, kombinasi-kombinasi modal atau tenaga kerja yang optimum yang ditentukan oleh factor yang relative
- distori-distori harga factor dan teknologi yang sesuai
- kemungkinan-kemungkinan substitusi/ penggantian tenaga modal
BAB 9
MIGRASI DARI DESA KE KOTA : TEORI DAN KEBIJAKSANAAN
9.1 Migrasi dan Pembangunan
Migrasi membantu meringankan/ mengurangi structural pedesaan perkotan yang tidak seimbang dengan dua cara yang langsung : pertama, dari segi pengadaan meningkatkan laju pertumbuhan pencari kerja di kota-kota relative dengan pertumbuhan populasi kota, yang pertumbuhan itu sendiri secara historis belum pernah trjadi karena proposisinya banyak terdiri dari tenaga- tenaga mud yang berpendidikan tinggi yang mendominasi arus migrasi ini. Kemudian yang ke dua : dari segi permintan/ kebutuhan menciptakan lapangan kerja di perkotan pada ummunya lebih sulit dari pada di pedesaan, karena membutuhkan sumber-sumber input/masukan komplementer yang substansial untuk hamper semua pekerjan di sector industtri
9.2 Teori Lewis Mengenai Pembangunan
1 Teori/ model dasar, menurutnya ekonomi itu sendiri terdiri dari dua factor :
- sector substitusi pedesaan tradisional, yang ditandai dengan produktifitas yang sangat rendah, surplus enaga kerja
- sector industri perkotan moderan, yang tingi produktifitasnya kesinilah tenaga kerja dari pedesaan/ sector substitusi di pindahkan secara bertahap
9.3 Migrasi Dalam Negara-negara yang sedang Berkembang : Beberapa Faktor Umum
1 Proses Migrasi
Factor-faktor yang mempengaruhi keputusan untuk melakukan migrasi sangat banyak dan kompleks
- Faktor-faktor social, ermasuk keinginan migrant untuk keluar dari lingkungan paksaan-paksan tradisional organisasi-organisasi social
- Faktor-faktor fisik, termasuk keadaan cuaca dan bencana alam
- Faktor-faktor dekografis, termasuk pengangguran tingkat kematian dan tingkat pertumbuhan populasi di daerah pedesaan
- Faktor-faktor cultural, termasuk keamanan hubungan keluarga yang luas didaerah perkotan dan bujukan dari apa yang disebut kegemerlapn kota
- Faktor-faktor komunikasi, sebagai hasil dari transformasi yang sudah di perbaiki, system-sistem pendidikan yang berorientasi kepada perkotaan dan dampak modernisasi-modernisasi
9.4 Mengenai teori ekonomi migrasi dari desa ke kota
1 Deskripsi verbal dari Todaro
Teori ini bermula dari asumsi bahwa pertama kali migrasi merupakan fenomena ekonomi yangbagi masing-masing migran bisa menjadi keputusan/ tindakan yang rasional yang menimbulkan eksistensi pengngguran di kota. Teori atau medel todaro ini menggambarkan penghasilan-penghasilan migrasi dalam responnya terhadap perbedaan-perbedaan di kota dan di ds yang diharapkan lebih baik dari pad penghasilan-penghasilan yang sebenarnya.
Untuk menyimpulkan Teori medel Todaro mengenai migrasi ada empat karaktristik pokok :
- Migrasi terutama sekali dirangsang oleh pertimbangan- pertimbangan ekonomis yang rasional
- Keputusan-keputusan untuk melakukan migrasi tergantung pada upah riel yang lebih besar yang bia diharapkan antara di desa dan di kota
- Kemungkinannya memperoleh pekerjaan di kota adalah sebaliknya, yaitu berhubungan dengan tingkat pengngguran di kota
- Tingkat migrasi yang melebihi tingkat pertumbuhan kesempatan kerja di kota, bukan hanya mungkin, tetapi juga rasional
2 Beberapa implikasi kebijaksanaan
- perlunya mengurangi atau menghilangkan ketidakseimbangan dalam kesempatan-kesempatan memperoleh pekerjaan di daerah perkotan dan di pedesaan
- Penciptan lapangan kerja di kota bukanlah penyelesaian yang tepat untuk mengatasi problema penganguran di kota itu
Tidak membedakan perluasan pendidikan akan menjurus kepada migrasi dan pengangguran lebih jauh
- Subsidi-subsidi upah dan harga factor kejerangan tradisional bisa menjadi konter produktif
- Program pembangunan desa terpadu yang harus digalakkan

BAB 10
TRANSFORMASI PERTANIAN DAN PEMBANGUNAN DESA
10.1 Strategi Pertanian Dalam Dekade Pembangunan
Dunia Pertanian sebenarnya terdiri dari dua jenis prtanian yang sangat berbeda :
- pertanian yang sangat efisien dinegara-negara yang sudah maju
- Pertanian yang tidak efisien dan rendah produktifitasnnya dinegara-negara yang sedang berkembang
10.2 Pembangunan ekonomi skala Kecil : transisi dari pertanian subsistensi kepertanian spesialisasi
Ada tiga jenjang tingkat dalam evolusi produksi pertanian :
Pertama : yang paling primitive dan murni adalah pertanian substensi produktifitas rendah, yang kedua : tingkat yang dapat disebut Diversifikasi (penganekaragaman ) atau pertanian campuran yang sebagian dari hasilnya untuk dimakan sendiridan sebagiannya lagi untuk dijual disektor Komersial, yang ketiga : tingkat yang mengmbarkan pertanian modern yang produiktifitasnnya sangat tingi, pertanian spesialisasi adalah seluruhnya untuk melayani keperluan pasar komersial
10.3 Menuju Strategi Pertanian Dan Pembangunan Desa : Beberapa syrat pokok
Sumber-sumber kemajuan peretanian kecil:
- Perubahan teknik dan inovasi/pembaharuan
- Kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi pemerintah yang sesuai
- Lembaga-lembaga social yang menunjang
Kondisi-kondisi umum kemajuan Desa
- Modernisasi struktur pertanian untuk memenuhi tuntutan kebutuhan pangan
- Menciptakan system penunjang yang efektif
- Mengubah keadaan lingkungan pedesaan untuk memperbaiki taraf hidup
1 Memperbaiki pertanian kecil
- Teknologi dan inovasi
- kebijaksanaan-kebijaksanaan dan kelembagaan
2 ada tiga kondisi untuk pembangunan desa
- perbaikan tata laksana tanah
- kebijaksanaan-kebijaksanaan yang menunjang
BAB 11
PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN
11.1 Sebuah Profil Pendidikan dan Kawasan-kawasan yang sedang berkembang
1 Pengeluaran pemerintah dibidang pendidikan
Denagan bberusaha sekuat tenaga melalui ekanan-tekanan politis untuk memperbanyak tempat/gedung-gedung sekolah di dalam Negara-negara yang sedang berkembang
2 pendaftaran
3 Putus Skolah
Salah satup roblema pendidikan yang penting alam Negara-negara yang sedang berkembang adalah benyaknya jumlah pelajar/mahasiswa yang menglami putus sekolah
4 Penghasilan dan Biaya-biaya
11.2 Problema-problema pokok bagi pendidikan dasar dan menengah
1 kelembagaan dan tidak efisien
Problema-problema tersebut adalah banyak sekali yang berkaitan-berkaitan dengan system pendidikan yang tidak efisien dan lamban
2 Manajemen dan intensif yang berubah-rubah
Problema-problema pendidikan ini sebagian disebabkan oleh tuntutan-tuntutan social yang teliti mengenai system pendidikan yang luas melebihi dana-dana dan sumber-sumber lain yang tersedia.
3 Peraturan yang merugikan tuntutan-tuntutan social pada tingkat pendidikan dasar
Begitu pentingnya pendidikan dasar bagi pembangunan nasional dan kondisi-kondisi tertentu dalam ekonomi social, dan cultural bagi negar-negara yangsedang berkembang, maka kita haruslah memperhiungkan/membahas system-sistem yang patut dan berguna untuk semua keperluan praktek dalam struktur dan isinya tidak berbeda dari Negara-negara yang sudah maju
11.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan belajar : beberapa sebab dan konsekuensi-konsekuensinya
- Lingkunngan keluarga, termasuk tingkat penghasilan, pendidikan orang tua, kondisi rumah/tempat tinggal, jumlah anak dan lan-lain
- interaksi kelompok, yaitu jenis anak-anak yang bergaul/ berhubungan dengan individu anak itu
- personality/ kepribadian, kemampuan/kecekapan dan kepandaian yang memang diwarisi oleh anak itu
- makanan yang bergizi dan kesehatan pada waktu awal (masih bayi)
11.3 Pendidikan Ekonomi dan pekerjan
1 Tuntutan permintaan dan persediaan/ penawaran dibidang pendidikan : hubungan antara kesempatan kerka dan tuntutan-tuntutan pendidikan
Permintan dan tuntutan terhadap pendidikan sudah cukup untuk mengkualifikasikan seseorang utntuk masuk kedalam kesempatan untuk memperoleh pekerjaan di sector modern :
- Upah/ dan penghasilan yang berbeda
-kemungkinan berhasil mendapatkan pekerjan disektor modern
-Biaya-biaya pendidikan yang langsung bagi pribadi
- biaya pendidikan yang tidak langsung atau biaya kebatalan
2 Perlunya mengurangi pengaruh tiruan/Artifisal dalam tuntutan-tuntutan terhadap pendidikan : titik pertemuan antara hasil dan biaya-biaya
Untuk menetralisir terhadap pendidikan menuju tingkatan-tingkatan yang lebih realistis :
- Menjadikan badan bantuan keuangan
- Mengurangi perbedan penghasilan antara sector-sektor moderndan sector-sektor tradisional
- Menjamin bahwa spesifikasi/ uraian pekerjan minimum tidah melebihi nilai pendidikan
- Memjamin bahwa upah disesuaikan dengan pekerjan, bukan dengan pendidikan yang diperoleh
11.4 Pendidikan Masyarakat dan pembangunan : beberapa masalah
1 Pendidikan dan pertumbuhan ekonomi
Suatu evaluasi mengenai peranan pendidikan dalam proses pembangunan ekonomi harus keluar dari analisi statistic tunggal pertumbuhan bersama
2 pendidikan ketimpangan dan kemiskinan
System-sistem pendidikan di berbagai Negara yang sedang berkembang lebih banyak menciptakan peningkatan ari pada mengurangi ketimpangan-ketimpangan penghasilan itu
3 Pendidikan Migrasi intern dan fertilitas/kesuburan
Menunjukkan bahwa pendidikan mempengaruhi mobilitas enaga kerja secara langsung dan harapan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar
4 Pendidikan dan pembangunan desa
Pembangunan desa haruslah ditinjau dalam konteks transformasi struktur ekonomis dan social, institusi-institusi hubungan dan proses di daerah pedesaan yang akan dicapai dalam jangka panjang





PEMBANGUNAN: GLOBALISASI DAN KETERGANTUNGAN

BAB I
PEMBANGUNAN:
GLOBALISASI DAN KETERGANTUNGAN
 Pendahuluan
Pembangunan yang berlangsung selama lebih dari setengan abad, sejak sesudah Perang Dunia II, telah mampu meningkatkan pendapatan rata-rata yang cukup tinggi pada hampir semua negara di dunia. Keadaan ini berlangsung sebagai akibat dari perkembangan teknologi yang sangat menakjubkan selama masa itu. Kemajuan teknologi telah meningkatkan kemampuan manusia untuk melipat gandakan kecepatan gerak, melakukan rangkaian pekerjaan yang jauh lebih banyak secara simultan dan mengendalikan kegiatan tanpa kehadiran manusia secara langsung, baik dalam jarak dekat maupun dari jarak jauh. Sebagai akibat dari teknologi itu, manusia telah mampu menempuh jarak yang amat jauh dalam waktu yang amat cepat.
Bersamaan dengan itu, dalam bidang komunikasi, hubungan menjadi sangat instan. Dengan teknologi yang ada pada saat ini, orang telah mampu mengakses informasi dari sudut dunia manapun dalam waktu hanya sekejap. Sesuatu yang sulit dibayangkan lima puluh tahun yang lalu. Hubungan antar manusia dari belahan bumi yang berbeda dengan mudah dapat berlangsung seperti diantara dua orang yang sedang bertatapan muka. Peralatanpun menjadi makin sederhana, sehingga secara mobil orang dapat berkomunikasi pada setiap saat dan dimana saja mereka berada. Sebab itu tingkat produksi rata-rata dunia meningkat cukup tinggi. Dengan kemajuan itu manusia telah mampu menghasilkan berbagai macam kebutuhan dalam jumlah yang jauh lebih banyak dengan berbagai variasi dan kualitas yang jauh lebih tinggi. Dengan demikian manusia seolah berada dalam satu dunia lain yang lain dari dunia masa lampau. Singkatnya, apa yang dapat dicapai dengan kemajuan teknologi pada saat ini, tidak pernah terbayangkan lima puluh tahun yang lalu. Ironisnya, kemajuan teknologi yang dahsyat itu belum mampu menghilangkan kemiskinan, memperbaiki nasib dan meningkatkan tingkat hidup dari bermiliar-miliar kaum dhu’afa yang tersebar diseluruh dunia.
Kemajuan teknologi dan kenikmatan hidup yang dicapai itu sayangnya hanya tersedia untuk sekelompok orang yang terbatas dalam kawasan tertentu atau di negara-negara tertentu saja, yang tak mungkin terjangkau oleh mereka yang hidup menderita dan tidur malam dengan perut setengah kosong dari negara-negara berkembang. Dengan kemajuan teknologi yang ada, sekelompok negara-negara maju menguasai hampir seluruh sumber daya yang ada “di bumi, air dan yang terkandung didalamnya” untuk kepentingan sekelompok kecil manusia saja, sambil meninggalkan limbah yang seringkali mencelakakan hidup orang-orang miskin yang ada disekitarnya.
Bersamaan dengan tingginya tingkat produksi dan pertumbuhan ekonomi rata-rata dunia pada saat ini, 1,2 miliar ummat manusia hidup dengan pendapatan kurang dari $ 1 sehari (1993 PPP US $), dan pada tahun 1998 terdapat 2,8 miliar manusia hidup dibawah $ 2 sehari. Dalam bidang kesehatan, kemajuan teknologi telah mampu melakukan pembuahan buatan dan bayi tabung, serta teknologi cloning. Tetapi, 968 juta ummat manusia masih hidup tanpa akses terhadap sumber air, 2,4 miliar manusia tak ada akses terhadap sanitasi kesehatan yang paling dasar sekalipun. 34 juta hidup dengan mengidap HIV/AID, 11 juta balita mati setiap tahun karena berbagai sebab yang sesungguhnya dapat dicegah. (UNDP, Human Development Report 2001: 9; Stiglitz, 2002: 253).
Bersamaan dengan itu, perkembangan teknologi juga telah mendekatkan hubungan antar negara, yang pada gilirannya telah mengakibatkan ketergantungan negara-negara miskin pada sebagian negara-negara kaya. Baik dalam konsumsi, investasi maupun dalam berbagai kebijakan publik. Pertanyaannya, mengapa dengan kemajuan teknologi yang tinggi itu manusia masih tetap belum mampu mengatasi derita dari sejumlah besar kaum dhu’afa tersebut? Dan mengapa dengan kemajuan itu, ketergantungan negara-negara miskin pada beberapa negara kaya menjadi makin intensif, sekalipun secara formal mereka sudah menyatakan diri sebagai negara merdeka yang berdaulat? Sementara ketergantungan dan ketimpangan hidup itu makin melebar, pengertian tentang makna dan tujuan pembangunan yang sesungguhnya masih merupakan perdebatan dan pembahasan yang belum tuntas.




BAB II
PEMBAHASAN

 Makna dan Tujuan Pembangunan
Selama masa yang panjang itu, pengertian tentang pembangunan berkembang sesuai dengan perkembangan pemahaman orang tentang tujuan pembangunan. Secara umum pembangunan dimaksudkan untuk mewujudkan kondisi yang lebih baik di masa depan daripada kondisi yang ada pada waktu sekarang (walal akhiratu khairul laka minal ula, QS, 93 : 4). Ini mengandung pengertian bahwa masyarakat selalu berada dalam kondisi yang dinamis. Dalam masyarakat yang dinamis, kondisi masa depan itu berada dalam proses perubahan dan perkembangan sepanjang waktu (dynamic change). Proses perubahan itu menggambarkan rangkaian perubahan yang bergerak kearah kondisi yang lebih baik. Perubahan itu tidak boleh hanya berlangsung dalam wawasan yang sempit, yang hanya terjadi pada sebagian anggota masyarakat saja, sementara sebagian besar lain tetap tidak berubah. Perubahan itu bersifat menyeluruh (the whole society), yang berlangsung secara bertahap dari satu kondisi kekondisi yang lain.
Sehubungan dengan hal di atas, ada dua hal yang berhubungan dengan proses pembangunan tersebut. Pertama, bahwa pembangunan itu berorientasi ke masa depan (future oriented). Artinya kondisi yang lebih baik itu ada di masa yang akan datang, yang harus dicapai melalui serangkaian upaya atau strategi. Kedua, pencapaian tersebut tidak seketika dapat terwujud. Ada jangka waktu yang perlu ditempuh dan memerlukan kesabaran atau upaya yang bersifat terus menerus. Dengan kata lain, pembangunan tidak dapat dilakukan hanya dalam sekejap dan dengan sekali pukul, sekali jadi. Tetapi meemerlukan kerja keras yang berkesinambungan. Dan itu tidak berlangsung secara sporadis, melainkan melalui perubahan yang direncanakan dan dilakukan secara bersahaja. Sebab itu dapat dipahami bila tujuan pembangunan itu menjadi cita-cita bersama yang diinginkan (preferable) oleh seluruh anggota masyarakat.

Sejalan dengan perkembangan baru, pembangunan tidak lagi dapat dilihat hanya terbatas dalam bidang ekonomi, tetapi telah meliputi berbagai bidang kehidupan. Maka itu makna pembangunan juga menjadi lebih luas. Karena itu indikator yang dipakai untuk mengukur perkembangan pembangunan juga menjadi lebih luas dari sekedar indikator-indikator ekonomi saja. Dalam bidang kebijakan publik, kriteria yang dipakai dalam proses perumusan strategi/kebijakan pembangunan juga berubah. Artinya kriteria yang dipakai tidak lagi sekedar kriteria ekonomi seperti tingkat pertumbuhan pendapatan, pertumbuhan konsumsi, investasi, tingkat pertumbuhan dan jumlah ekspor atau impor dan sebagainya. Tetapi juga mencakup tingkat kesehatan masyarakat, harapan hidup, tingkat pendidikan masyarakat, ketergantungan politik dan ekonomi keluar negeri, kemampuan kemandirian sebuah daerah otonom dan lain-lain.
Dilihat pada perubahan orientasi ini, selama beberapa decade terakhir terdapat tiga kecenderungan pengertian yang dipakai dalam mengukur keberhasilan pembangunan suatu negara. Ketiga pengertian tersebut menggambarkan pemahaman orang tentang pembangunan. Pengertian itu pada waktu yang lalu sering disebutkan sebagai Trilogi Pembangunan yang tercermin dalam prioritas Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) di Indonesia. Yang pertama pengertian berdasarkan tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita. Jumlah total produksi nasional (GNP atau GDP) dibagi dengan jumlah penduduk. Ukuran ini menjadi satu-satunya ukuran yang sangat dominan sampai pada awal tahun 70-an. Tetapi karena berbagai kelemahan yang ada, pengertian ini mendapat kritik dari banyak pihak. (Mahbub ‘ul Haq, 1976, H.B.Chenery, 1979, Everett E. Hagen, 1980, E. Wayne Nafziger, 1990, J.G.Williamson, 1991).
Diantara beberapa kelemahan yang dikritik para ahli itu adalah, pertama, perhitungan pendapatan nasional hanya dilakukan berdasarkan nilai pasar. Akibatnya, komponen-komponen pendapatan atau beberapa kegiatan produktif yang tidak dapat diukur dengan harga pasar, terabaikan. Pekerjaan ibu rumah tangga misalnya, tidak termasuk dalam perhitungan pendapatan naasional, sementara kegiatan pembantu, termasuk dalam perhitungan tersebut. Kedua, perhitungan pendapatan per kapita pada umumnya didasarkan pada nilai mata uang dolar (US $). Padahal daya beli dalam negeri sesuatu mata uang seringkali tidak sama dengan nilai tukar mata uang yang bersangkutan terhadap dolar. Ketiga, pengertian berdasarkan pendapatan per kapita mengabaikan unsur keadilan masyarakat dan pemerataan. Pendapatan per kapita sebagai hasil-bagi dari total pendapatan terhadap jumlah penduduk boleh jadi meningkat karena peningkatan total pendapatan yang lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan penduduk. Padahal peningkatan total pendapatan itu boleh jadi hanya berasal dari pendapatan sekelompok kecil anggota masyarakat. Akibatnya, pembangunan dianggap telah berlangsung secara meyakinkan, sementara sebagain besar penduduk lain, tidak mengalami perubahan. Dampak dari pengertian yang demikian terlihat pada pemihakan berbagai kebijakan publik pada kepentingan golongan yang berpendapatan tinggi.
Karena itu, pada bagian akhir tahun 1970-an, timbul kecenderungan untuk menggantikan atau melengkapi pengertian berdasarkan ukuran pendapatan per kapita dengan pemerataan pendapatan diantara penduduk. Pembangunan dianggap berhasil, kalau sebagian besar penduduk dapat menikmati hasil dari pembangunan itu. Jadi, disamping pertumbuhan, diperlukan adanya pemerataan pendapatan antar kelompok atau golongan dalam masyarakat. Perhitungan yang demikian antara lain ditunjukkan dengan ketimpangan ekstrim, ketimpangan sedang dan ketimpangan moderat. Sejak masa itu, pemerataan (equality) menjadi pertimbangan penting dalam proses perumusan kebijakan publik. Tetapi kemudian, pengertian tersebut juga tidak sepenuhnya diterima para ilmuan. Persolannya terletak pada pertimbangan keadilan dalam berusaha. Pengertian ini dianggap masih kurang tepat, karena pemerataan hanya berdasarkan hasil dari pembangunan, bukan pembangunan itu sendiri.
Dalam hal ini, ada dua pertimbangan yang dapat dikemukakan. Pertama, pemerataan hasil mungkin terjadi hanya karena sebagian kecil anggota masyarakat bekerja dengan sungguh-sungguh dalam pembangunan, sedangkan sebagian besar lainnya tidak bekerja apa-apa dan tidak ikut mengahasilkan sesuatu, tetapi ikut menikmati hasil-hasil pembangunan. Kedua, proses pembangunan hanya berlangsung dalam lingkungan yang terbatas dan berada dalam kekuasaan atau dominasi sebagian kecil penduduk. Dengan kata lain, terdapat ketergantungan dari sebagian besar penduduk berpendapatan rendah pada sebagian kecil dari mereka yang berpendapatan tinggi. Kelemahan ini terjadi karena strategi produksi tidak disusun senyawa dengan strategi distribusi (Mahbub ‘ul Haq, 1976: 32 – 34)

Kemudian, sejak awal tahun 1980-an timbul pengertian yang melihat pembangunan sebagai pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Artinya, pembangunan baru dianggap sukses kalau terjadi pemerataan kegiatan pembangunan diantara berbagai golongan dalam masyarakat dan terdapat pemerataan hasil-hasil dari kegiatan itu. Pemerataan disini bukan terjadi karena pembagian pendapatan dari hasil usaha orang lain, tetapi sebagai hasil usahanya sendiri. Dengan kata lain terdapat partisipasi aktif dari sebagian besar anggota masyarakat dalam pembangunan. Yang dimaksudkan dengan partisipasi aktif disini adalah bahwa keterlibatan mereka dalam pembangunan bukan karena ada desakan atau tekanan dari luar, tetapi sebagai pilihan berdasarkan kemauan sendiri sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Pengertian kemauan menyangkut azas demokrasi, sebagai hak dari setiap warga negara. Sebagai warga negara, disamping mempunyai hak, dia juga mempunyai tanggungjawab yang harus dipikulnya. Sementara kemampuan menyangkut keperluan adanya pendidikan dan pengembangan ketrampilan. Ini berkaitan dengan kewajiban pemerintah untuk pemberdayaan dan pengembangan kemampuan sumberdaya manusia. Singkatnya, pembangunan baru dianggap berhasil kalau secara terus menerus terdapat pemberdayaan dan pengembangan kemampuan rakyat untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya.
 Globalisasi
Perkembangan teknologi seperti telah dikemukakan terdahulu membawa dunia berada dalam era baru, era informasi. Dalam era ini terjadi interelasi dalam hampir seluruh bidang kehidupan. Tidak hanya dalam masing-masing bidang, tetapi juga antara satu bidang dengan bidang lain. Bidang bisnis terkait erat dengan bidang keuangan, bidang produksi dengan bidang konsumsi, bidang pemerintahan dengan kehidupan rakyat. Dalam era ini, segala sesuatu menjadi terbuka karena informasi melintas melampaui tembok-tembok pengamanan dan batas-batas negara. Pemerintah tidak dapat lagi menutup diri, mengambil sesuatu keputusan atau membuat sesuatu kebijakan terlepas dari rakyat. Bersamaan dengan itu terjadi perubahan paradigma atau cara berpikir dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai kemakmuran seseorang atau suatu masyarakat, misalnya, tidak lagi diukur berdasarkan jumlah kekayaan (property) seperti halnya pada era pertanian, atau pada ukuran pemilikan modal (the accumulation of capital) pada era industri. Tetapi itu diukur pada penguasaan dan kemampuan memanfaatkan informasi. Singkatnya, informasi telah menggantikan kedudukan kekayaan dan modal dalam kehidupan bermasyarakat. Keadaan ini selanjutnya menjadi landasan dan memberi dukungan pada munculnya dan berkembangnya kegiatan ekonomi dan bisnis yang berskala internasional. Perdagangan meluas membawa keterkaitan antara produksi dan konsumsi secara internasional. Ini ditopang oleh puluhan dan bahkan ratusan perusahaan-perusahaan transnasional yang menguasai sumberdaya dan pasar diseluruh dunia. Pada saat ini, di Asia Tenggara saja terdapat tidak kurang dari 130 perusahaan transnasional milik Jepang, Eropa dan Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain bergerak dalam bidang-bidang elektronik, pembuatan mobil, metal, telekomunikasi dan petrokimia. Proses integrasi antar negara dan antar masyarakat di seluruh dunia ini, yang disebut globalisasi, membawa berbagai dampak.
Baik yang positif maupun yang negatif. Dampak positif timbul sebagai manfaat dari perkembangan potensi akal manusia (improvement of human potential) untuk mampu menguasai lingkungan. Dengan itu, alam yang diciptakan Allah untuk kepentingan manusia, sampai batas tertentu, dimanfaatkan secara optimal. Tetapi kemampuan memanfaatkan itu seringkali tidak disertai oleh batasan-batasan keimanan, yang pada gilirannya telah merusakkan alam dan kehidupan sesama manusia. Manusia yang diberi kesempatan untuk menikmati alam sebagai karunia, karena keserakahannya, telah menciptakan sebab dari timbulnya bencana yang menimpa manusia itu sendiri. Sayangnya, karena kebodohannya, bencana itu menimpa mereka yang tidak berdaya ketimbang mereka yang menciptakan kerusakan. Bersamaan dengan adanya dampak negatif sebagai akibat dari keserakahan yang disertai dengan kemampuan tersebut, telah menimbulkan pula ketergantungan negara-negara berkembang pada negara-negara maju.
Negara-negara berkembang yang pada umumnya merupakan negara-negara bekas jajahan, sekalipun sudah memperoleh kemerdekaan setelah Perang Dunia II, namun belum mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada negara-negara bekas penjajah. Keadaan ini tidak saja disebabkan karena mereka tidak mampu untuk berdiri sendiri, tetapi juga karena doktrin yang diterima membenarkan ketergantungan itu. Sebab itu, dalam perkembangan dunia sekarang, ketergantungan itu meluas, tidak saja pada negara-negara bekas penjajah, tetapi juga pada negara-negara kuat lainnya. Karena ketergantungan itu lebih berdasar pada keyakinan dan pemahaman yang dianggap keliru, maka para penganjur teori dependency dan ilmuan strukturalis, antara lain seperti Prof. Dr. Mubiyarto, Prof. Dr. Sri-Edi Swasono, Prof. Dr. Sritua Arief di Indonesia dan Fernando H. Cardoso, Samir Amin, David Gould di belahan dunia lain menganjurkan adanya rekonstruksi terhadap pemikiran dan pengajaran pembangunan dan ilmu ekonomi di Perguruan-Perguruan Tinggi dari terori yang hanya berorientasai pada teori Neo-Klasik kepada pemikiran dan ajaran yang lebih realistis. Globalisasi yang dilandasi oleh teori kebebasan pasar dari Neo Klasik itu menjadi tidak realistis terhadap kondisi negara-negara berkembang. Keadaan ini diperparah lagi karena sikap munafik dan perlakuan yang tidak fair dari negara-negara maju dalam menerapkan konsep pembangunan yang digagasinya sendiri terhadap negara-negara berkembang.
Konsep pembangunan berdasarkan pasar bebas menjadi strategi global melalui sebuah konsensus antara IMF, World Bank dan US Treasury, yang disebut sebagai “Washington Consensus” pada tahun 1980. Konsep yang disepakati itu disebut mereka sebagai strategi yang “tepat” untuk negara-negara berkembang. Strategi tersebut menurut Stiglitz lebih berorientasi pada permasalahan yang dihadapi negara-negara Amerika Latin yang kehilangan kontrol terahadap Anggaran Belanja Negara dan inflasi. yang cukup tinggi pada waktu itu. Konsep itu melalui IMF hendak dipaksakan bagi semua negara, sekalipun kondisi makro dan mikro dari negara-negara-negara tersebut tidak sama.
Sebab itu menurut Stiglitz, konsep IMF itu lebih banyak membawa bencana ketimbang manfaat bagi negara-negara berkembang. Konsep persaingan bebas yang tidak seimbang antara kekuatan raksasa dari negara-negara maju dengan negara-negara berkembang yang miskin dan masih lemah benar-benar tidak masuk akal. Di samping itu terdapat sikap hipokrit dari negara-negara maju. Di satu pihak menganjurkan liberalisasi pasar dengan penghapusan proteksi dan subsidi pada negara-negara berkembang, dilain pihak, pada saat yang sama memperlakukan proteksi dan subsidi terhadap hasil-hasil pertanian dari negaranya sendiri. Sebab itu tidak heran kalau konsep globalisasi yang demikian mendapat kritik tajam diseluruh dunia (Stigliz, 2002: 3-22; dan p. 23 – 52).


 Ketergantungan
Ketergantungan negara-negara berkembang pada negara-negara maju menjadi lebih intensif melalui proses globalisasi yang digagaskan negara-negara maju itu. Tetapi sebab dari ketergantungan tersebut secara inheren sebenarnya sudah terlebih dahulu ada. Ketergantungan itu dapat dijelaskan melalui dua pendekatan, pendekatan historis dan pendekatan struktural. Pandangan historis melihatnya pada perkembangan pembangunan sepanjang waktu yang terjadi di Amerika Latin dan Afrika. Seperti sudah disebutkan diatas, sekalipun negara-negara bekas jajahan telah menyatakan kemerdekaan, namun masih tetap menjadi satelit dari negara bekas penjajah. Proses pembangunan di negara-negara tersebut tidak berorientasi pada kepentingan rakyatnya, tetapi lebih cenderung menjadi pelayan bagi negara-negara induk bekas penjajah. Akibatnya, pembangunan menjadi tidak realistis terhadap lingkungan dan kondisi masyarakat yang ada. Sementara pendekatan structural menjelaskan ketergantunngan ini sebagai akibat dari ketidak-selarasan kepentingan atau living condition antar kelompok dan antar negara (Johan Galtung, dalam Siregar, 1991: 131; Cardoso et.al, 1979: xiv -xviii).
Menurut pendekatan Struktural ini, dunia dapat dibagi atas dua bagian yang terdiri dari bangsa-bangsa atau negara-negara Pusat dan negara Pinggiran. Pada tiap negara, baik negara Pusat maupun negara Pinggiran ada kolompok masyarakat pusat dan kelompok masyarakat pinggiran. Dengan demikian di negara Pusat ada kelompok pusat-Pusat dan ada kelompok pinggiran-Pusat. Demikian juga pada negara Pinggiran, ada pusat-Pinggiran dan pinggiran-Pinggiran. Interaksi antara negara maju dengan negara miskin selanjutnya menjadi hubungan yang bersifat dominasi yang bersifat permanen oleh negara maju (negara Pusat) terhadap negara berkembang (negara Pinggiran), yang disebut sebagai imperialisme.
Pengertian imperialisme disini tidak sama dengan penaklukan dengan kekuatan senjata atau penjajahan politik yang dapat hapus dengan adanya kmerdekaan suatu negara. Hal ini berlangsung secara permanen karena tiga kondisi:
1. ada keselarasan hubungan antara kelompok masyarakat pusat dalam negara Pusat dengan kelompok masyarakat pusat dalam negara Pinggiran.
2. ketidak selarasan hubungan antara kelompok masyarakat pusat dengan kelompok masyarakat pinggiran di negara Pinggiran lebih besar daripada ketidak selarasan hubungan antara kelompok masyarakat pusat dengan kelompok masyarakat pinggiran di negara Pusat.
3. tidak ada keselarasan hubungana antara kelompok masyarakat pinggiran dalam negara Pusat dengan kelompok masyarakat pinggiran dalam negara Pinggiran..
Dalam keadaan demikian dapat dimengerti kalau kelompok elit (kelompok masyarakat pusat) dinegara Pinggiran lebih cenderung membela kepentingan elit (kelompok masyarakat pusat) di negara maju ketimbang membela kepentingan masyarakat miskin (kelompok masyarakat pinggiran) dinegaranya sendiri. Sementara kelompok amsyarakat pinggiran di negara maju lebih cenderung membela kepentingan elit (kelompok masyarakat pusat) di negaranya sendiri ketimbang kepentingan sesama kelompok pinggiran dari negara pinggiran. Dengan demikian kelompok masyarakat miskin di negaara berkembang menjadi kelompok yang dipinggirkan atau dikorbankan.Konsekuensi dari posisi dan hubungan yang demikian mengakibatkan adanya interaksi yang bersifat asimetris. Yakni proses interaksi yang makin melebarkan ketimpangan antara negara Pinggiran (negara berkembang) dengan negara
Pusat (negara maju). Pengaruhnya terlihat pada berbagai keuntungan dan dominasi yang lebih besar bagi negara maju dalam bidang ekonomi, politis, dalam struktur hubungan internasional, militer, komunikasi, pendidikan, psikologis dan pengaruh sosial lainnya. (Johan Galtung, 1991: 136-143). Proses asimetris ini tidak dapat diralat sekedar dengan kebijakan moneter atau dengan menaikkan harga penjualan bahan mentah, karena hal itu tidak dapat menyumbang pada ketimpangan pengaruh antar aktor dan stakeholders dari proses tersebut. Sayangnya, seperti yang dikemukakan Prof. Dr. Sri-Edi Swasono (Sri-Edi Swasono, 2003: p. 16), studi ilmu ekonomi selama ini masih kurang menaruh perhatian terhadap struktur sosial dan proses interaksi yang demikian. Sebab itu diperlukan adanya pengkajian ulang terhadap studi ekonomi dan pembangunan untuk lebih menaruh perhatian pada kajian tentang struktur sosial dan politik serta pada perkembangan antar waktu dari pengaruh yang timbul dari hubungan tersebut. Kalau tidak, kjian itu akan menjadi tidak realistis terhadap lingkungan masyarakat yang ada.

BAB III
PENUTUP
 Kesimpulan
1. Perkembangan teknologi telah dapat meningkatkan kemampuan manusia untuk menguasai lingkungan, meningkatkan kecepatan gerak, mempermudah hubungan antar manusia dan meningkatakan jumlah dan jenis produksi yang jauh lebih banyak daripada yang dapat dilakukan lima puluh tahun yang lalu. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, bermiliar-miliar ummat manusia masih hidup pada tingkat kemiskinan yang amat parah diseluruh dunia.
2. Perkembangan teknologi itu juga telah menyebabkan terjadinya globalisasi atau proses integrasi antar negara dan antar masyarakat diseluruh dunia menjadi lebih intensif. Namun karena inisiatif dari interaksi tersebut datangnya dari negara-negara maju, proses itu lebih banyak mewakili aspirasi dan kepentingan negara-negara maju. Akibatnya, hubungan itu menjadi asimetris, sehingga lebih memperlebar kesenjangan dan ketergantungan negara-negara berkembang pada negara-negara maju...
3. Karena ketergantungan dan proses interaksi tersebut lebih banyak berakar pada kajian bidang-bidang ilmu lain diluar kajian ilmu ekonomi konvensional, studi pembangunan dan ilmu ekonomi di Indonesia masih kurang menaruh minat pada studi struktural dan akibat-akibat yang ditimbulkannya sepanjang waktu. Sebab itu sangat dianjurkan untuk segera melakukan kajian ulang dan restrukturisasi kurikulum dalam studi pembangunan dan ilmu ekonomi yang terlalu berorientasi pada teori Neo Clasik kepada kajian yang lebih realistis.


Daftar Pustaka

Arief, Sritua, Indonesia Tanah Air Beta, Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001.
Cardoso, Fernando Henrique and Enzo faletto, dependency and development in Latin America, (translated), Berkeley, Los Angeles: University of California Press, 1979.
Legrain, Philippe, Open World: The truth about Globalisation, London: Abacus, 2003.
Mubyarto, membanguan Sistem Ekonomi, Yogyakarta: BPFE, 2000.
------------, Ekonomi Pancasila, Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UGM, 2002.
------------ and Daniel W. Bromley, Development Alternative for Indonesia, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003.
Reynolds, Christopher, Global Logic, The Challenge of Globalization for Southeast Asian Business, Singapore and New York: Prentice Hall, 2002.
Siregar, Amir Effendi, (ed.) Arus Pemikiran Ekonomi Politik, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1991.
Stiglitz, Joseph, Globalization and Its Discontents, London: Allen Lane, Penguin Books, 2002.
Swasono, Sri-Edi, Ekspose Ekonomika: Kompetensi dan Integritas Sarjana Ekonomi, Jakarta: UI – Press, 2003.

TINJAUAN EKONOMI POLITIK TERHADAP PEMBANGUNAN PERTANIAN DI INDONESIA”

BAB I
TINJAUAN EKONOMI POLITIK TERHADAP PEMBANGUNAN PERTANIAN DI INDONESIA”
 Pendahuluan
Kebutuhan pokok yang dianggap paling inti adalah pangan. Di Indonesia, kebutuhan akan pangan terutama berpusat pada kebutuhan akan beras sehingga kebijakan akan pangan di Indonesia sering identik dengan kebijakan perberasan. Indonesia akan mengalami ketidakstabilan apabila masalah perberasan tidak teratasi mengingat pola pangan masih terkonsentrasi pada beras yang konsumsi per kapitanya 134 kg per orang pertahun.Tujuan pembangunan ekonomi adalah menggariskan terciptanya struktur perekonomian yang seimbang antara sektor pertanian dan sector industri. Diharapkan terciptanya industri yang maju didukung pertanian yang tangguh.
Dengan demikian, pembangunan ekonomi harus ditandai oleh pergeseran dominasi struktural sector pertanian atas industri menuju perimbangan.
Proses perjalanan ekonomi pertanian Indonesia mengalami periode jatuh bangun yang menarik untuk dianalisis dan ditelusuri lebih dalam. Periode jatuh bangun tersebut sebenarnya amat berhubungan erat dengan kebijakan ekonomi makro dan strategi pembangunan ekonomi secara umum. Pada era 1970-an Indonesia cukup berhasil membangun fondasi atau basis peertumbuhan ekonomi yang baik ke dalam kebijakan ekonomi makro. Hasil besar yang secara nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat banyak adalah terpenuhinya kebutuhan pangan secara mandiri pada pertengahan 1980-an.

Pada tahun itu ekonomi nasioanal tumbuh tinggi, bahkan lebih dari 7 persen per tahun, karena kuatnya basis pertanian dari sumber daya alam. Kesempatan kerja meningkat pesat dan kemampuan sector-sektor ekonomi dalam menyerap pertumbuhan tenaga kerja baru juga amat besar. tetapi, kondisi kondusif tersebut harus berakhir secara tragis ketika pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an ekonomi pertanian juga harus menderita cukup serius. sector pertanian mengalami fase dekonstruktif dan tumbuh rendah sekitar 3,4 persen karena proteksi besar-besaran pada sektor industri, apalagi berlangsung melalui proses konglomerasi yang merapuhkan pondasi ekonomi.
Ketika krisis ekonomi menimbulkan pengangguran besar dan limpahan tenaga kerja dari sektor perkotaan tidak mampu tertampung di sektor pedesaan, pertanian pun harus menaggung beban ekonomi-politik yang tidak ringan.
Pada pembahasan selanjutnya akan dibahas mengenai fase-fase perjalanan pembangunan pertanian di Indonesia. Dalam perkembangannya tersebut, juga tidak terlepas dari berbagai dilema yang harus dihadapi oleh kehidupan pertanian di Indonesia, dan juga akan dijelaskan pula teori atau perspektif yang terkait dalam masalah pembangunan pertanian di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
 Pendekatan Ekonomi Politik Klasik
Pada pendekatan Ekonomi politik klasik (paradigma konomi klasik), sangat anti dengan campur tangan pemerintah. Pandangan ini sangat berbeda dengan pandangan yang dianut pada masa merkantilisme, yang percaya bahwa negarawan, sebagai layaknya seorang bapak yang baik dalam suatu rumah tangga, bertanggung jawab memenuhi semua kebutuhan seluruh anggota masyarakat dan mengatur ketenaga kerjaan. Oleh Adam Smith yang merupakan tokoh kaum klasik, doktrin merkantalis dinilai terlalu peternalis.
Adam Smith percaya bahwa campur tangan yang terlalu banyak oleh pemerintah justru bisa menyebabkan perekonomian mengalami distorsi yang ujung-ujungnya hanya akan menimbulkan terjadinya inefiensi.
Karena campur tangan pemerintah lebih sering mengganggu jalannya perekonomian.
1.Pandangan tentang kekayaan.
Jika kaum merkantilis mengidentikkan kekayaan dengan uang, bagi Adam Smith kekayaan adalah kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Secara konseptual, pendistribusian kekayaan ditentukan oleh actor-aktor atau kelas-kelas social yang berperan dalam proses kekayaan. Aktor-aktor tersebut adalah tenaga kerja (pemilik sumber daya manusia), kapitalis (pemilik capital), dan para tuan tanah atau landlord (pemilik sumber daya alam, terutama tanah).
2. Teori tentang pembagian kerja.
Teori pembagian kerja menunjukkan bahwa dalam upaya mengejar keinginan pribadi, maka orang harus bekerja sama dengan orang lain.
Teori pembagian kerja tidak berlaku hanya untuk suatu tugas tertentu saja, tetapi juga bisa diterapkan antar sector dan antar Negara. Menurut teori keunggulan absolute yang dikembangkan Smith, tiap Negara lebih baik berfokus menghasilkan barang-barang yang bisa diproduksi dengan biaya rendah di negaranya, dan menjual kelebihan produksi (surplus) ke luar negeri, yang kalau dibuat di dalam negeri harganya lebih mahal.
3. Khuluk manusia.
Salah satu sifat atau khuluk manusia yang dipelajari Smith ialah bahwa semua orang ingin hidup lebih baik. Keinginan seperti inilah yang disebut Smith sebagai hasrat untuk kondisi yang lebig baik, suatu hasrat yang ada dalam diri kita semenjak masih di rahim dan tidak akan pernah meninggalkan kita hingga ajal menjemput.
Bagi Smith, manusia adalah ‘binatang yang gelisah’, dan sudah merupakan khuluk manusia untuk menjadi homo ekonomis, yaitu manusia ekonomi sebagai makluk rasional yang didorong oleh kepentingan pribadi untuk selalu berusaha memperoleh hasil yang sebesar-besarnya dari berbagai kemungkinan pilihan yang ada
4. Mekanisme pasar.
Anggapan klasik tentang mekanisme pasar adalah dimana para ahli ekonomi mengatakan bahwa pasar akan tegak dan bekerja dengan baik apabila tidak ada campur tangan pemerintah.
 Pendekatan Ekonomi Politikn Sosialisme.
Konsep-konsep dan teori-teori yang dikembangkan kaum klasik, mendapat kritikan yang sangat keras dari kaum sosialisme, terutama oleh Karl Marx. Dari persfektif aliran Marxis, perekonomian tidak bisa diserahkan begitu saja pada mekanisme pasar, melainkan harus direncanakan, diatur, dan dikontrol oleh pemerintah.
Sosialisme dilihat sebagai suatu system ekonomi politik adalah sebuah system social yang dilandaskan pada prinsip komune atau kebersamaan, di mana pemilikan alat-alat produksi dan distribusi adalah bersifat kolektif. Dalam masyarakat sosialis yang menonjol adalah kebersamaan, dan salah satu bentuknya yang paling ekstrim adalah komunisme, di mana keputusan-keputusan ekonomi disusun, direncanakan, dan sekaligus dikontrol oleh Negara.
Kebanyakan aliran sosialisme mempercayai peran Negara dan partai politik untuk mencapai kemerdekaan dan keadilan social, sosialis libertarian menyandarkan harapan mereka pada serikat pekerja, majelis pekerja, municipal-munisipal, dewan warga Negara, serta aksi-aksi lainnya yang bersifat nonbirokratis dan terdesentralisasi.

 Pendekatan Ekonomi Politik Neo-Klasik.
Pakar-pakar ekonomi politik neoklasik melihat bahwa perekonomian memang tidak berjalan mulus menurut aturan alami dan tidak selalu menuju pada keseimbangan, saebagaimana yang dipersepsikan oleh kaum klasik. Akan tetapi, mereka lebih tidak setuju lagi jika mekanisme pasar ini diabaikan dan segala sesuatunya serba diatur oleh pemerintah, sebagaimana dianjurkan oleh kaum sosialis. Menurut pakar-pakar ekonomi Neoklasik, untuk mengatasi kelemahan dan ketidak sempurnaan pasar, boleh ada dan seharusnya memang ada campur tangan pemerintah. Akan tetapi, campur tangan pemerintah hanya diperlukan untuk memperbaiki distorsi yang terjadi di pasar, bukan untuk menggantikan fungsi mekanisme pasar itu sendiri.
Yang menonjol pada pendekatan ekonomi politik neoklasik adalah positivesme dan saintisme. Metologi ini mendukung cara pandang yang memusat pada persoalan meteriil, yang empiric dan kasat indra, mengutaman variabel yang bisa diukur. Akibatnya, banyak persoalan penting yang bersifat normative diabaikan..
Pendekatan terpusat ke masyarakat lebih ditekankan pada penggunaan pasar-pasar politik oleg agen-agen ekonomi, sedangkan dalam pendekatan terpusat ke begara titik berat lebih ditekankan pada penggunaan sumber daya ekonomi oleh pelaku-pelaku politik untuk tujuan politik.

 Ekonomi Politik Radikal : Strukturalisme dan Dependensia
Sebagai dampak dari hasil penelitian ECLA yang dipimpin Prebisch, pada tahun 80-an muncul barbagai kritik terhadap teori-teori dan konsep-konsep yang bersal dari barat. Kritik terhadap teori-teori dari barat tersebut paling terasa di Amerika Latin. Kritik-kritik tersebut kemudian menghasilkan sebuah paradigma baru yang dikenal dengan paradigma ekonomi politik Radikal.
Ekonomi Politik Radikal sebenarnya sangat bervariasi, tetapi secara sederhana dibedakan atas kelompok strukturalis dan aliran dependesia atau keterbelakangan.
a. Pendekatan Ekonomi Politik Strukturalisme
Perdagangan bebas system kapitalis telah melahirkan ketergantungan Negara-negara berkembang terhadap Negara-negara maju, yang mengakibatkan hubungan perdagangan internasional yang pincang antara Negara-negara dunia ketiga dengan Negara-negara industri maju. Dari situlah muncul berbagai macam kritikan. Kritikan pertama datang dari kelompok yang disebut aliran strukturalis. Aliran ini muncul untuk merespon gagasan-gagasan ECLAC mengenai sebab-sebab keterbelakangan di Amerika Latin dan rekomendasinya untuk menghilangkan hambatan-hambatan structural dalam negeri di Negara-negara terbelakang di Amerika Latin.
Menurut Swasono (2003), strukturalis adalah paham yang menolak ketimpangan-ketimpangan structural sebagai sumber ketidak adilan social ekonomi, sebagaimana dianut oleh neoklasik yang dilandaskan pada prinsip kepentingan pribadi, mekanisme pasar bebas, persaingan ketat, dan pengutamaan pertumbuhan pemerataan. Strukturalisme beroirentasi pada strukturisasi dan restrukturisasi ekonomi disertaiu intervensi dan pengontrolan mekanisme pasar sehingga tidak saja menghasilkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga nilai tambah sosiokultural yang menjangkau makna partisipasi danemansipasi kemartabatan.
Kaum strukturalis pada umumnya menolak mekanisme pasar, karena mereka menilai mekanisme pasar bebas tersebut secara inheren cenderung menimbulkan ketidak adilan social ekonomi.. Selain menolak pasar bebas, kaum strukturalis juga menolak teori invisible hand yang dikemukakan oleh kaum neoklasik.
Bagi kaum strukturalis, ekonomi pasar bebas dunia lebih banyak menimbulkan kemiskinan daripada kemakmuran, meningkatkan angka pendapatan daripada penciptaan lapangan kerja, menimbulkan ketimpangan dibanding pemerataan, mengakibatkan ketidakpastian daripada stabilitas, mengakibatkan kerusakan budaya ketimbang kemajuan.
Kaum strukturalis banyak mengejek ekonomi pasar bebas Neoklasik dan Neoliberalisme serta globalisasi capital, produksi, dan perdagangan. Sayang, mereka tidak (belum) mampu menyusun sibulus dan materi secara rapi untuk diajarkan di kelas seperti yang sudah dikembangkan oleh pakar-pakar ekonomi neoklasik. Ini yang menyebabkan pandangan mereka kurang diperhatikan, dan makin lama makin diabaikan.

b.Pendekatan Ekonomi Politik Dependensia.
Teori-teori ketergantungan pada dasarnya meyakini bahwa keputusan dalam alokasi sumber daya tidaklah cukup atas pertimbangan efisiensi melainkan lebih dari itu berkaitan dengan kepentingan publik.
Teori dependesia cukup bagus dalam mengembangkan hubungan sebab akibat yang menjelaskan keterbelakangan di Negara-negara miskin dan ketergantungan mereka pada Negara-negara kaya. Hanya saja, mereka tidak mampu mencarikan jalan keluar dan solusi bagi masalah-masalah yang dihadapi. Yang ditawarkan adalah memutuskan hubungan dengan Negara-negara maju dan sebaliknya melakukan kerja sama dengan Negara-negara miskin.
Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah saran untuk memutuskan hubungan dengan Negara-negara maju dan melakukan kerja sama di antara sesama Negara miskin ini akan mampu menaikkan posisi tawar menawar Negara-negara berkembang, atau justru akan menciptakan kemiskinan bersama di antara sesama Negara-negara miskin tersebut?Karena paradigma pendekatan dependensia tidak mampu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi, kian lama pendekatan dependensia ini semakin pudar dan ditinggalkan.

 Pendekatan Ekonomi Politik Kelembagaan.
Ekonomi politik kelembagaan dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk pemecahan masalah-masalah ekonomi maupun politik. Pandangan ini didasarkan pada kenyataan bahwa sebagian besar persoalan ekonomi maupun politik justru berada diluar dominan ekonomi dan politik itu sendiri, yaitu dalam kelembagaan yang mengatur proses kerja suatu perekonomian maupun proses-proses politik.
Studi tentang kelembagaan menempati posisi penting dalam ilmu ekonomi politik karena fungsinya sebagai mesin social sangat mendasar . Dikatakan demikian, sebab dalam konteks ekonomi politik, institusi ekonomi dan politik yang mendasarinya. Oleh karena itu, kita perlu mengembangkan ekonomi politik kelembagaan, sebab baik buruknya system ekonomi politik sangat tergantung pada kelembagaan yang membingkainya (Rachbini, 2001)
 Pendekatan Ekonomi Politik Global
Jika hingga PD II 1944 keinginan ekspansi teritorial suatu negara dilakukan melalui adu kekuatan fisik dan senjata, maka dalam abad 20 – 21 ini beralih ke perang dagang melalui liberalisasi ekonomi/ perdagangan dalam kancah “global trade war”. Struktur perekonomian global secara fundamental telah berubah sejak awal 1980-an.
Sistem ekonomi global dicirikan oleh 2 (dua) kekuatan yang kontra-diktif, yaitu :
• Konsolidasi ekonomi global dengan tenaga kerja murah di satu sisi
• Menciptakan pasar-pasar konsumen baru disisi lain
Ekspansi pasar dari perusahaan global (Trans National Corporation) memerlukan pelemahan perekonomian domestik dari negara yang akan dimasukinya. Hambatan (barriers) pergerakan uang dan barang cenderung dihapuskan, sistem kredit dideregulasi, sebagian lahan dan aset-aset pemerintah beralih ke kapital internasional.



BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan paparan yang telah dijelaskan pada pembahasan , maka dapat ditarik kesimpulan antara lain :
1. Kompleksitas permasalahan yang dihadapi Indonesia termasuk permasalahan di bidang pertanian merupakan buah kekeliruan desain dari strategi dan perangkat kebijakan ekonomi makro yang dilakukan dengan pendekatan ekonomi politik neoklasik.

2. Pertumbuhan pertanian di Indonesia, merupakan contoh mendasar dari lahirnya teori ekonomi politik radikal. Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan Negara agraris , di mana dalam perkembanganya melakukan kerja sama internasional dan turut serta dalam perdagangan global. Namun, dalam kenyataanya Negara Indonesia masuk dalam jajaran Negara-negara terbelakang di atas Amerika Latin.

3. Dalam persfektif ekonomi politik Radikal, Kebijakan ekonomi makro di Indonesia selama ini kurang mendukung kepentingan pembangunan sektor pertanian, karena terlalu bias ke sektor industri manufaktur, jasa dan perkotaan
4 Revitalisasi pertanian perlu ditekankan pada peningkatan kapasitas produksi dan pemasaran pertanian (market driven) dengan meningkatkan:
(a) akses terhadap teknologi dan pengetahuan,
(b) akses pengusaha dan petani terhadap kapital,
(c) kapasitas jaringan komoditi untuk memfasilitasi perluasan perdagangan



DAFTAR PUSTAKA
Bustanul Arifin, dkk. 2001. Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Deliarnov. 2005. Ekonomi Politik. Jakarta : Erlangga .
Hudiyanto. 2004. Ekonomi Politik. Jakarta : Bumi Aksara.

PERKEMBAGAN PERANAN SIM DALAM ORGANISASI BISNIS



Disusun oleh : DEDI ( E01107024 )

PERKEMBAGAN PERANAN SIM DALAM ORGANISASI BISNIS
Sistem Informasi Managemen (SIM) merupakan sebuah bidang yang mulai berkembang semenjak tahun 1960-an. Walau tidak terdapat konsensus tunggal, secara umum SIM didefinisikan sebagai sistem yang menyediakan informasi yang digunakan untuk mendukung operasi, managemen, serta pengambilan keputusan sebuah organisasi*. SIM juga dikenal dengan ungkapan lainnya seperti: “Sistem Informasi”, “Sistem Pemrosesan Informasi”, “Sistem Informasi dan Pengambil Keputusan”
Judul tulisan yang saya buat ini ini mengandung tanda tanya. namun, mohon untuk tidak ditafsirkan bahwa di Indonesia tidak terdapat kegiatan penelitian yang berhubungan dengan SIM. Justru, diasumsikan bahwa kegiatan tersebut telah ada (exists) sehingga tidak ada klaim bahwa perlu melakukan perintisan bidang ini dari nol. namun, bidang ini telah berkembang secara paralel di berbagai bidang ilmu yang telah mapan seperti Ilmu Komputer, Bisnis dan Managemen, Psikologi, dan sebagainya. Sistem informasi mempunyai 3 tugas utama dalam sebuah organisasi, yaitu: Mendukung kegiatan-kegiatan usaha/operasional,,Mendukung pengambilan keputusan manajemen dan Mendukung persaingan keuntungan strategis Perkembagan peranan informasi manajemen sistem informasi dapat diklasifikasikan sebagai sistem informasi operasi atau manajemen, sementara yang lainnya menjalankan berbagai macam fungsi **.
1. Perkembangan Peranan Proses Bisnis Dan Operasional
Peranan sistem informasi untuk operasi bisnis adalah untuk memproses transaksi bisnis, mengontrol proses industrial, dan mendukung komunikasi serta produktivitas kantor secara efisien. a. Transaction Processing Systems (TPS)
TPS berkembang dari sistem informasi manual untuk sistem proses data dengan bantuan mesin menjadi sistem proses data elektronik (electronic data processing systems). TPS mencatat dan
* & ** : Didefinisikan oleh Kumorotomo Wahyudi dan Subandono Agus Margono dalam buku Sistem Informasi Manajemen dalam Organisasi Publik. Diterbitka pada tahun 1998 Yogyakarta; Gadjah Mada University Press
memproses data hasil dari transaksi bisnis, seperti penjualan, pembelian, dan perubahan persediaan/inventori.
TPS menghasilkan berbagai informasi produk untuk penggunaan internal maupun eksternal. Sebagai contoh, TPS membuat pernyataan konsumen, cek gaji karyawan, kuitansi penjualan, order pembelian, formulir pajak, dan rekening keuangan.
b. Process Control Systems (PCS)
Sistem informasi operasi secara rutin membuat keputusan yang mengendalikan proses operasional, seperti keputusan pengendalian produksi. Hal ini melibatkan process control systems (PCS) yang keputusannya mengatur proses produksi fisik yang secara otomatis dibuat oleh komputer. Kilang minyak petroleum dan assembly lines dari pabrik-pabrik yang otomatis menggunakan sistem ini.
c. Office Automation Systems (OAS)
OAS mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan mengirim data dan informasi dalam bentuk komunikasi kantor elektronik. Contoh dari office automation (OA) adalah word processing, surat elektronik. electronic mail, teleconferencing, dan lain-lain.
2. Peranan Pengambilan Keputusan
Sistem Informasi Manajemen menyediakan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan manajemen. Sistem ini terdiri atas beberapa tipe, yaitu:
a. Laporan spesifikasi dan rencana awal untuk para manajer dikerjakan oleh information reporting systems ( sistem pelaporan informasi).
b. Dukungan ad hoc dan interaktif untuk pengambilan keputusan oleh manajer dikerjakan oleh decision support systems (sistem pendukung keputusan).
c. Informasi kritikal untuk manajemen atas ditetapkan oleh executive information systems ( sistem informasi eksekutif)
d. Nasehat pakar untuk pengambilan keputusan operasional atau manajerial ditetapkan oleh expert systems (sistem pakar) dan knowledge-based information systems (sistem informasi berbasis pengetahuan lainnya).
e. Dukungan langsung dan terus untuk aplikasi operasional dan manajerial dari end users ditetapkan oleh end user computing systems.
f. Aplikasi operasional dan manajerial dalam mendukung fungsi bisnis ditetapkan oleh business function information systems.
g. Produk dan layanan jasa yang bersaing untuk mencapai keuntungan strategis ditetapkan oleh strategic information systems.
Dalam dunia kerja nyata, sistem informasi yang digunakan merupakan kombinasi dari berbagai macam sistem informasi yang telah disebutkan di atas. Pada prakteknya, berbagai peranan tersebut diintegrasi menjadi suatu gabungan atau fungsi-silang. cross-functional sistem informasi yang menjalankan berbagai fungsi ***.
3. Perkembangan Peranan Persaingan Keuntungan Strategis
Sistem informasi dapat memainkan peran yang besar dalam mendukung tujuan strategis dari sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan dapat bertahan dan sukses dalam waktu lama jika perusahaan itu sukses membangun strategi untuk melawan kekuatan persaingan yang berupa :
ü Persaingan dari para pesaing yang berada di industri yang sama,
ü Ancaman dari perusahaan baru,
ü Ancaman dari produk pengganti,
ü Kekuatan tawar-menawar dari konsumen, dan
ü Kekuatan tawar-menawar dari pemasok.
*** G. Davis, Information Systems Conceptual Foundations :Looking B’ackward and Forward, Organizational and Social Perpectives on Information Technolog, R.L Baskerville et.al. (eds), 2000,61-82.
Beberapa strategi bersaing yang dapat dibangun untuk memenangkan persaingan adalah:
ü Cost leadership. keunggulan biaya-menjadi produsen produk atau jasa dengan biaya rendah.
ü Product differentiation. perbedaan produk-mengembangkan cara untuk menghasilkan produk atau jasa yang berbeda dengan pesaing.
ü Innovation-menemukan cara baru untuk menjalankan usaha, termasuk di dalamnya pengembangan produk baru dan cara baru dalam memproduksi atau mendistribusi produk dan jasa.
Perkembagan kemajuan Sistem informasi manajemen. SIM dapat menolong perusahaan untuk**** :
1. Meningkatkan Efisiensi Operasional
Investasi di dalam teknologi sistem informasi dapat menolong operasi perusahaan menjadi lebih efisien. Efisiensi operasional membuat perusahaan dapat menjalankan strategi keunggulan biaya low-cost leadership.Dengan menanamkan investasi pada teknologi sistem informasi, perusahaan juga dapat menanamkan rintangan untuk memasuki industri tersebut (barriers to entry) dengan jalan meningkatkan besarnya investasi atau kerumitan teknologi yang diperlukan untuk memasuki persaingan pasar. Selain itu, cara lain yang dapat ditempuh adalah mengikat (lock in) konsumen dan pemasok dengan cara membangun hubungan baru yang lebih bernilai dengan mereka.
2. Memperkenalkan Inovasi Dalam Bisnis
Penggunaan ATM. automated teller machine dalam perbankan merupakan contoh yang baik dari inovasi teknologi sistem informasi. Dengan adanya ATM, bank-bank besar dapat memperoleh keuntungan strategis melebihi pesaing mereka yang berlangsung beberapa tahun. Penekanan utama dalam sistem informasi strategis adalah membangun biaya pertukaran (switching costs) ke dalam hubungan antara perusahaan dengan konsumen atau pemasoknya.

**** : R.L Baskerville and M. D. Myers, Information Sistems as A Reference Ciscipline, MIS Quarterl , 26 (1) March 2002, 1-1
Sebuah contoh yang bagus dari hal ini adalah sistem reservasi penerbangan terkomputerisasi yang ditawarkan kepada agen perjalanan oleh perusahaan penerbangan besar. Bila sebuah agen perjalanan telah menjalankan sistem reservasi terkomputerisasi tersebut, maka mereka akan segan untuk menggunakan sistem reservasi dari penerbangan lain.
3. Membangun Sumber-Sumber Informasi Strategis
Teknologi sistem informasi memampukan perusahaan untuk membangun sumber informasi strategis sehingga mendapat kesempatan dalam keuntungan strategis. Hal ini berarti memperoleh perangkat keras dan perangkat lunak, mengembangkan jaringan telekomunikasi, menyewa spesialis sistem informasi, dan melatih end users.
Sistem informasi memungkinkan perusahaan untuk membuat basis informasi strategis (strategic information base) yang dapat menyediakan informasi untuk mendukung strategi bersaing perusahaan. Informasi ini merupakan aset yang sangat berharga dalam meningkatkan operasi yang efisien dan manajemen yang efektif dari perusahaan. Sebagai contoh, banyak usaha yang menggunakan informasi berbasis komputer tentang konsumen mereka untuk membantu merancang kampanye pemasaran untuk menjual produk baru kepada konsumen.
Fungsi dari sistem informasi tidak lagi hanya memproses transaksi, penyedia informasi, atau alat untuk pengambilan keputusan. Sekarang sistem informasi dapat berfungsi untuk menolong end user manajerial membangun senjata yang menggunakan teknologi sistem informasi untuk menghadapi tantangan dari persaingan yang ketat. Penggunaan yang efektif dari sistem informasi strategis menyajikan end users manajerial dengan tantangan manajerial yang besar






Daftar Pustaka

Wahyudi Kumorotomo dan Subandono Agus Margono. 1998. Sistem Informasi Manajemen dalam Organisasi Publik. Yogyakarta; Gadjah Mada University Press
G. Davis, Information Systems Conceptual Foundations :Looking B’ackward and Forward, Organizational and Social Perpectives on Information Technolog, R.L Baskerville et.al. (eds), 2000,61-82.
R.L Baskerville and M. D. Myers, Information Sistems as A Reference Ciscipline, MIS Quarterl , 26 (1) March 2002, 1-1
http://www..student-stie-mce.ac.id : Senin,12 Januari 2009. Pukul : 14.00
http://www.heri_abi.staff.ugm.ac.id : Senin,12 Januari 2009.Pukul : 14.06 www.yetti.blogster.com : Senin,12 Januari 2009. Pukul : 14.10
















HAKIKAT PENGEMBANGAN ORGANISASI

BAB I
HAKIKAT PENGEMBANGAN ORGANISASI

A. Definisi Pengembangan Organisasi

Dale S.Beach dalam bukunya,personel : The management Of people at Woerk
Pengembangan organisasi adalah suatu strategi pendidikan yang kompleks yang direncanakan untuk meningkatkan keefektifan dan kesehatan organisasi melalui campur tangan yang direcanakan oleh seseorang konsultan dengan mengunakan teori dan tekhnik – tehnik ilmu pengetahuan terapan .

B. Ciri - Ciri Organisasi

Menurut Kenneth N. Wexley, Ph.D dan Gary A.Yukl, Ph.d. dalam buku Organization Behavior and Personnel Psyclogy.
a. Mengandung suatu system organisasi total.
b. Memandang organisasi dari sudut ancangan atau pendekatan system.
c. Dibantu oleh manejemen puncak.
d. Sering digunakan pelayanan seorang perantara bahan pihak ketiga.
e. Merupakan suatu usaha terencana.
f. Dimaksudkan untuk menigkatkan kemampuan dan kesehatan organisasi.
g. Mengunkan pengetahuan.
h. Suatu proses jangka panjang.
i. Pengembangan organisasi merupakan suatu proses yang terus – menerus , tampa henti.
j. Bertumpu pada pengalaman seperti bertentangan dengan pengetahuan didaktik.
k. Suatu model campur tangan riset ti tindakan.
l. Menekankan pentingnya penetuan tujuang dan kegiatan perencanaan.

C. Tujuan pengembangan Organisasi.

Menurut Felix A. Nigro Dan Lloyd G dlam buku : Modern Public Admistration.
Tujuan pengembangan organisasi adalah menciptakan kemampuan – kemampuan organisasi untuk memecahkan masalah – masalah secara terus menerus.

D. Nilai Gerakan Pengembangan Organisasi

Menurut Dale.S.Beach dalam buku : The management of people at work, nilai – nilai pengembangan organisasi adalah :
1. Manusia pada dasarnya baik.
2. Kebutuhan akan ketegasan dan bantuan.
3. Orang dapat maju.
4. Menerima perbedaan diantara orang – orang.
5. Jujur, terbuka, dan terus terus terang.
6. Perhatian terhadap kegiatan kegiatan proses.
7. Membantu perkembangna kerjasama.
8. Mengkonfrontasikan pertentangan.


E. Masalah yang Dapat Dipecahkan Melalui Pengembangan Organisasi.

1. Pertentangan tujuan.
2. Komunikasi yang tidak baik.
3. Pertentangan yang didiamkan.
4. Kerjasama yang kurang baik.
5. Persaingan yang betsifat merusak.
6. Pengambilan keputusan yang salah.
7. Tangapan yang lamban terhadap perubahan.
8. Kurang motivasi.





BAB II
HAKIKAT INTERVENSI PENGEMBANGAN ORGANISASI

Istilh Intervensi pengem,bangan organisasi menunjukan serangkaian kegiatan programatik terencana yang dalamnya klioen dan konsultan mengambil bagian selama berjalan program pengembangan organisasi.

A. Definisi Intervensi Pengembangan Organisasi.

Menurut Wendell L. French dan Cecil H. Bell : intervensi pengembangan organisasi adalah organisasi adalah serangkain kegiatan terstruktur yang didalamnya unit – unit organisasi terpilih ( kelompok atau sasaran individu ) melakukan tugas yang secara lansung atau tidak lansung sasaran tugas dihubungan dengan perbaikan organisasi.
Mengolongkan intervensi yang memusatkan pasa tingkat – tingkat tindakan peseorangan , kelompok, dan oganisasi.

Focus Intervensi
Perseorangan  Latihan kepekaan.
 Perencanaan kader.
 Ddl
Kelompok  Pembentukan tim antar kelompok.
 Umpan balik survey.
 Ddl
Organisasi  Perencanaan kembali organisasi .
 Manajemen berdasarkan sasaran.
 Ddl









B. Perbedaa antara Pengembanga Manajemen dengan Pengembangan Organisasi

Menurut Dale s. dalam bukunya , personenel : management of people at work ;
Pengembangan manajemen memusatkan terutama pada penigkatan prestasi menejer sebagai individu, sedangkan pengembangan organisasi berusaha mengembangkan ataumenigkatkan prestasi keseluruhan dari seluruh kelompok,depertemen, dan lebih luas lagi organisasi sebagai suatu keseluruhan.

Tujuan pengembangan manajen secaa khusus menurutnya adalah :

1. Indoktrinasi Filsafat perusahan.
2. Pengetahuan tentang perusahaan,kebijaksanaanya,prosedur dan teknologinya.
3. Mempelajari kecakapan hubungan manusiawi.
4. Memperoleh kecakapan dan pengertian dalam teknik – teknik manajemen , seperti pengendalian biaya , pengolahan data, SIM, dan perencanaan keuangan.
5. melaksanakan bermacam – macam jabatan manajemen yang sesungguhnya dalam keahlian fungsional yang berlainan.


Tujuan pengembangan organisasi secar khusus menurutnya adalah :

1. Memudahkan pemecahan msalah dan meningkatkan mutu keputusan.
2. Mengadakan perubahan yang lebih efektif.
3. Mengurangi pertentangan yang sifatnya merusak dan membuatnya lebih efektif.
4. meningkatkan keterlibatan dengan tujuan organisasi.
5. memlihara kerjasama antara individu dan kelompok – kelompok.























KEUNGAN, INVESTASI, DAN BANTUAN LUAR NEGRI, KONTROVERSI DAN PELUANG

Abstrak
Disisni penulis meberikan gambaran terutama system keuangan, investasi serta bantuan luar negri kemuidan dari tiga hal tersebut akan memberikan dampak positif atau negative ysangpada akhirnya memberikan kontroversi apakah itu peluang atau ancaman.

Isi Pada bab 15 ini, penulis menjelaskan atauy menerangalkan arus an sumber keuanagn internasional, maidal asing, perusahaan multinasional, namuan luar negri, bantuan public, alas an donator memberi bantuan mengapa Negara berkemabang bersedia menerima bantuan damapak bantuan luar negri

Kata Kunci : (private foregn investment), (financial AID)



































BAB 15
KEUNGAN, INVESTASI, DAN BANTUAN LUAR NEGRI, KONTROVERSI DAN PELUANG
A Arus Dan Sumber Keuangan Internasional
Arus sumber keuangan internasioanal dapat terwujud dalam bentuk :
- pananaman modal asing yang dilakukan pihak swasta (private foregn investment) terutama berupa penambahan modal asing langsung (PMA) yang biasannya dilakukan oleh perusahaan raksasa multinasional yakni perusahaan besar dengan kantor pusat yang berada di Negara maju asalnya sedangkan cabang operasi perusahaannya tersebar diberbagai penjuru dunia. Investasi ini langsung diwujudkan berupa pabrik pengadaan fasilitas produksi, pembelian mesin-mesin dan sebagainya
B Penanaman Modal Asing Dan Perusahaan-Perusahaan Multinasional
Dewarsa Terakhir Ini tidak ada pihak atau lembaga lainya yang mampu menyamai peranan arti penting dana pengaruh perusahaan-perusahaan multinasional dalam pertumbuhan perdagangan internasioanal dan arus-arus permodalan global yang telah tumbuh sedemikian pesatnaya

C Perusahaan-Perusahaan Multinasional :Ukuran, pola dan kecendrunganya.
Terdapat dua karakteristik pokok dari perusahaan multinasioanal yakni ukuran mereka yang luar biasa besar dan kenyataan bahwasanya operasi bisnis mereka yang tersebar keseluruh dinia cendrung terpusat oleh pemimpinnya di markas besar induk perusahaan yang berkedudukan dinegara asal ukuran mereka yang sedemikian besar jelas memberikan kekuatan ekonomi kadang juga politik yang besar sehinga mereka memberikan kekuatan utama yang menyebabkan berlangsungya globalisasi perkembangan dunia.
1 Penanaman modal asing swasta : bererpendpat pro dan kontra mengenai kehadiran serta peranannya dalam pembangunan.
a. argument ekonomi tradisional yang mendukung penanaman modal asing : pemunuhan atas kebutuhan tabungan modal, devisa, pendapatan dan keahlian mamanejemen
b Argumen yang menetang pennaman modal swasta asing memperlebar kesenjangan
c mempertemukan argument yang pro dan kontra.2 investasi perpolio swasta ; Berkah atau musibah bagi negara berkembang
d bantan luar negri
perdebatan tentang pembangunan
1 berbagai masalah konsepsi dan pengukuran bantuan luar negri, selain penghasilan devisa dari ekspor penanman modal swasta asing secara langsung maupun tidak langsung sumber devisa utama eksternal berikutnya bagi Negara dunia ketiga adalah bantuan resmi (atau lebih tepatnya pinjaman karena apa yang disebut sebagai bantuan itu harus dikembalikan suatu saat nanti kecuali apa yang disebut sebagai hibah) pembangunan bilateral dan multi nasional yang secara umum dikenal dengan istilah baku bantuan dana luar negri (financial AID)
Pada prinsipnya semua transper sumber day aril suatu Negara kle Negara lain dapat dikatakan sebagai bantuan luar negri namun pada definisi yang sederhana itupun terkandung sebuah masalah yaitu transfer sumber daya yang terselubung
2 jumlah dan alokasi bantuan public
3 alasan pihak donor memberi bantuan
Yaitu lembaga atau Negara donor memberikan bantuann luar negri karena hal tersebut memang dapat dipakai sebagai alat untuk mngejar lkepentingna politik. Stategis dan ekonomi mereka sendiri. Walaupun sebagian bantuan harus diakui didorong oleh alasan-alasan, yalni bentuk pembantu negar-negar yag kurang beruntung (misalnya berupa program bantuan pangan yang bersifat darurat untuk Negara yang tengah dilanda kelaparan) namun pada dasarnya tidak ada bukti-bukti sejarah yang jelas menunjukan dalam kurun waktu yang cukup lama ada Negara donor bersedia membantu pihak atau Negara lain tanpa mengharapkan suatu imbalan tertentu (berupa imbalan politik, ekonomi, militer dan sebagainya)
A Motivasi Politik
Motivasi politik merupakan motivasi yang palimg penting apabila ditinjau dari sudut pandang negra pemberi bantuan terutama bagi Negara donor yang tergolong besar seperti Negara amerika serikat
B Motivasi ekonomi : Model-model dan kriteria lainya
Dalam konteks prioritas strategi dan politik yang luas, program bantuan luar negri Negara maju mempunyai landasan atau logika ekonomi yang kuat bahkan meskipun motivasi politik mesipun motivasi politik mungkin merupakan pertimaba ngan utamanya namun logika dan peritimbagan ekonomis senantiasa disertakan paling tidak sebagi kata pengantaar untuk memotivasi mereka sebenarnya
C Motivasi Ekonomi dan kepentingan negara honor.

























Tanggapan
Kombinasi “ kekecewaan terhadap bantuan “ dibanyak negar dunia ketiga penerima bentuan serta “ kejemuan membantu : pada beberapa negara maju yang bertindak sebagai donor ternyata tidak menjadi penghalang hubungan masa lalu walaupun hal tersebut tidak bias dikatakan dapat lebih memuaskan padapihak. Ketidakpuasan yang menyelimuti kedua belah pihak tersebut lantas mendorong terciptanya suatu peluang atau kemungkinan pengaturan baru yang ditandai oleh kesamaan kepentingan dan motivasi positif yang lebih besar baik bagi negara donor maupaun negara peneriman bantuan, berdasarkan alasan yang telah diuraikan sebelumnya maka peningkatan bantuan tentu saja tetap lebih baik dari pada pengurangan bantuan
Dimasa mendatang pengaitan bantuan dengan repormasi pasar bebas dan penyesuan instutusional penyesuaan serta peningkatan efisiensi pemerintah yang bersih demi terselenggaranya proses penyesuaian structural akan meningkat hal lain yang sekarang ini sering kali dikaitkan dengan pemberian bantuan adalah himbauan bagi pengentasan kemiskinan pengupayaan pertumbuhan ekonomi secara berkesinambunagan serta kondisi pelestarian hidupp.












TUGAS TERSTRUKTUR
TEORI PEMBANGUNAN
BAB 15
KEUNGAN, INVESTASI, DAN BANTUAN LUAR NEGRI,
KONTROVERSI DAN PELUANG

Michael P. Todaro
Edisi :
Ke Enam
DISUSUN OLEH :
DEDI
E01107024




FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
ILMU ADMINISTRASI NEGARA
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2009